Banyumas – Senin, 15 Juni 2026 Harapan akan akses air bersih yang lebih layak mulai terwujud di Pondok Pesantren Biroyatul Huda, Desa Batuanten, Kecamatan Cilongok, Banyumas. Proses pembangunan sumur bor resmi dimulai dengan doa bersama yang diikuti para santri dan pengurus pondok.

Pengeboran direncanakan mencapai kedalaman 80 meter. Program ini diharapkan menjadi solusi atas keterbatasan air bersih yang selama ini dialami sekitar 200 santri di pesantren tersebut.
Dalam suasana khidmat, para santri memanjatkan doa agar proses pengeboran berjalan lancar dan menghasilkan sumber air yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Air Bersih Masih Menjadi Tantangan
Pondok Pesantren Biroyatul Huda yang berdiri sejak 1993 hingga kini masih menghadapi keterbatasan akses air bersih. Padahal, air menjadi kebutuhan utama untuk berwudhu, mandi, mencuci, memasak, hingga konsumsi harian.
Selama ini, sebagian santri harus berjalan sekitar 500 meter menuju sungai di belakang pondok untuk memenuhi kebutuhan mandi, cuci, dan kakus. Akses menuju sungai tersebut cukup sulit karena harus melewati medan yang terjal.
Sementara itu, santriwati biasanya memanfaatkan fasilitas air milik warga sekitar. Adapun kebutuhan air minum masih bergantung pada pasokan air galon yang dibeli secara rutin.
Kondisi tersebut semakin terasa saat musim kemarau tiba, ketika kebutuhan air meningkat sementara ketersediaannya semakin terbatas.
Sumur Bor Bawa Harapan Baru
Pembangunan sumur bor menjadi langkah penting untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar para santri. Jika pengeboran berhasil menemukan sumber air yang memadai, para santri tidak lagi harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk mendapatkan air.
Jaozan, perwakilan LAZNAS Al Irsyad Purwokerto yang bertugas mengawasi pelaksanaan program di lokasi, mengatakan bahwa pembangunan sumur bor ini menjadi upaya nyata untuk menjawab kebutuhan mendesak para santri.
“Selama berada di lokasi, kami melihat langsung bagaimana para santri harus berjuang mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari. Karena itu, kami berharap proses pengeboran ini berjalan lancar dan dapat menghasilkan sumber air yang cukup sehingga para santri bisa lebih mudah menjalankan aktivitas belajar maupun ibadah,” ujar Jaozan.
Ia menambahkan, doa bersama yang digelar sebelum pengeboran mencerminkan besarnya harapan seluruh pihak terhadap program tersebut.
“Kami memulai ikhtiar ini dengan doa bersama. Semoga Allah memberikan kemudahan dan menghadirkan sumber air yang membawa manfaat jangka panjang bagi para santri dan pesantren,” katanya.
Ketersediaan air bersih nantinya tidak hanya mendukung kebutuhan mandi dan mencuci, tetapi juga aktivitas belajar, beribadah, serta menjaga kebersihan lingkungan pondok.
Bagi para santri Biroyatul Huda, sumur bor bukan sekadar fasilitas. Kehadirannya menjadi harapan baru agar mereka dapat menuntut ilmu dengan lebih nyaman tanpa harus dibebani kesulitan mendapatkan air bersih.
Kini, harapan itu mulai diwujudkan melalui proses pengeboran yang berlangsung di Desa Batuanten. Seluruh keluarga besar pesantren berharap ikhtiar ini membuahkan hasil terbaik dan menjadi sumber manfaat jangka panjang bagi generasi santri yang akan datang.


