Tidak ada perjalanan pendidikan yang benar-benar lurus, dan kisah Ubaidurrahman bin Abdurrahman Laica atau Ubaid menjadi salah satu buktinya. Di balik pencapaiannya sebagai penerima beasiswa LAZNAS Al-Irsyad Purwokerto, tersimpan perjalanan panjang yang dibentuk oleh keterbatasan, keteguhan, dan konsistensi dalam menuntut ilmu.
Ubaid lahir di Makassar dalam keluarga sederhana yang menempatkan pendidikan sebagai bagian penting kehidupan. Ayah dan ibunya merupakan tenaga pendidik, namun perjalanan pendidikannya tidak serta-merta berjalan mulus. Masa kecilnya justru banyak diwarnai perpindahan tempat tinggal, hingga ia sempat tinggal bersama neneknya di Kampung Tambea, Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Di tempat itulah ia memulai pendidikan dasarnya hingga kelas tiga SD.
Meski berada di lingkungan sederhana, Ubaid menunjukkan ketertarikan besar pada dunia belajar. Ia dikenal sebagai anak yang suka menggambar dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Di masa ini, ia juga mulai merasakan pengalaman-pengalaman kecil yang membentuk mentalnya, termasuk keberhasilan sederhana di kelas yang membuatnya lebih percaya diri dalam belajar.
Pendidikan yang Tumbuh dari Kehilangan
Namun, perjalanan pendidikannya mulai diuji sejak dini. Ia harus kehilangan nenek yang merawatnya dengan penuh kasih sayang saat masih duduk di bangku SD. Tidak lama setelah itu, ia kembali ke Makassar dan menghadapi kenyataan lain yang lebih berat: perceraian orang tua. Kondisi keluarga yang tidak lagi utuh membuat masa sekolahnya diwarnai tantangan emosional dan sosial, termasuk rasa kesepian di lingkungan pergaulan.
Di tengah situasi tersebut, Ubaid tidak berhenti belajar. Justru dari tekanan hidup itu ia mulai membangun ketahanan diri. Ia menyelesaikan pendidikan SD dengan kondisi yang tidak mudah, sambil belajar menerima keadaan yang tidak bisa ia ubah. Perjalanan ini menjadi titik awal kedewasaan yang terbentuk bukan dari kenyamanan, tetapi dari ujian.
Jalan Panjang Menuju Kesempatan Baru
Memasuki jenjang SMP, Ubaid memilih jalan yang lebih disiplin dengan masuk ke pondok pesantren. Keputusan ini menjadi titik balik dalam perjalanan pendidikannya. Ia hidup dalam lingkungan sederhana, jauh dari keluarga, dan harus belajar mandiri sejak awal. Fasilitas terbatas tidak menjadi penghalang, justru menjadi ruang pembentukan karakter dan kedisiplinan.
Di pesantren inilah Ubaid mulai serius menghafal Al-Qur’an. Ia menata waktunya antara belajar formal dan hafalan, hingga berhasil menyelesaikan lima juz saat lulus SMP. Pencapaian ini menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkembang, melainkan dorongan untuk lebih tekun.
Semangat belajarnya terus berlanjut saat SMA. Ia menetapkan target yang lebih besar: menyelesaikan 30 juz Al-Qur’an. Proses itu tidak mudah, membutuhkan konsistensi, pengorbanan waktu, dan ketahanan mental yang kuat. Namun, pada tahun ketiga SMA, ia berhasil menyelesaikan target tersebut. Bagi Ubaid, ini bukan hanya pencapaian akademik dan religius, tetapi juga bukti bahwa disiplin jangka panjang mampu mengalahkan berbagai keterbatasan.
Setelah lulus SMA, Ubaid sebenarnya memiliki impian untuk melanjutkan pendidikan ke Timur Tengah, khususnya Universitas Islam Madinah. Demi mengejar cita-cita tersebut, ia melanjutkan pendidikan bahasa Arab dan penguatan hafalan di PPMTQ Abath, Purbalingga, Jawa Tengah. Di sana, ia kembali menjalani kehidupan pesantren dengan fokus yang lebih matang, bahkan berhasil menambah setoran hafalan hingga lima belas juz dalam satu kali setoran.
Namun, di tengah proses mengejar mimpi luar negeri, jalannya kembali berubah. Ia mendapatkan tawaran beasiswa dari LAZNAS Al-Irsyad Purwokerto untuk melanjutkan studi di Universitas Amikom Purwokerto. Keputusan ini menjadi momen penting dalam hidupnya. Dengan keyakinan bahwa setiap peluang adalah bagian dari rencana terbaik, ia menerima beasiswa tersebut.
Perpindahan ini bukan hal yang mudah. Ubaid harus beradaptasi dari dunia pesantren yang fokus pada ilmu agama menuju dunia kampus yang lebih luas dan beragam. Ia belajar hal-hal baru yang sebelumnya tidak pernah ia sentuh, mulai dari teknologi, multimedia, hingga dunia organisasi. Namun, semangat belajarnya tidak berubah. Ia justru semakin aktif mengembangkan diri melalui berbagai kegiatan kampus.
Di Universitas Amikom Purwokerto, ia dipercaya menjadi Ketua Umum UKM IMAM, terlibat dalam AMPU Media, menjadi asisten praktikum, hingga ikut dalam penelitian dosen muda. Semua pengalaman ini memperlihatkan satu hal penting: bahwa kesempatan pendidikan yang ia peroleh melalui beasiswa tidak ia sia-siakan, melainkan ia kembangkan menjadi ruang kontribusi yang lebih luas.
Perjalanan Ubaid menunjukkan bahwa beasiswa bukan sekadar bantuan pendidikan, tetapi hasil dari proses panjang yang penuh ketekunan. Dari kehilangan, keterbatasan, hingga konsistensi dalam belajar dan menghafal Al-Qur’an, semua itu menjadi fondasi yang mengantarkannya pada kesempatan untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Dan dari sana, ia terus membuktikan bahwa pendidikan bukan hanya tentang tempat belajar, tetapi tentang kesungguhan untuk terus bertumbuh.


