SUDAN – Air bersih menjadi kebutuhan mendesak yang kian sulit diperoleh ribuan pengungsi di Sudan. Di tengah konflik yang masih berkecamuk, banyak keluarga terpaksa bertahan hidup dengan pasokan air yang sangat terbatas. Bagi mereka, mendapatkan air untuk minum, memasak, dan sanitasi bukan lagi sekadar rutinitas harian, melainkan perjuangan berat yang harus dihadapi setiap saat (24/07).

Sebagai bentuk kepedulian terhadap krisis kemanusiaan ini, LAZNAS Al Irsyad Al Islamiyyah Indonesia kembali menyalurkan bantuan air bersih bagi para pengungsi di Sudan. Sebanyak 12.000 liter air bersih didistribusikan kepada warga di Kamp Thuwaibah, yang terletak di sebelah barat Kota El Obeid, Negara Bagian Kordofan Utara.
Program kemanusiaan ini terlaksana berkat kolaborasi antara LAZNAS Al Irsyad Al Islamiyyah Indonesia dan Yayasan Inisiatif Kayan untuk Pengembangan Masyarakat–Sudan. Bersama relawan dan tokoh masyarakat setempat, bantuan disalurkan secara langsung kepada keluarga-keluarga penerima manfaat.
Dua unit truk tangki air dikerahkan dalam proses distribusi kali ini. Masing-masing mengangkut 6.000 liter air, sehingga total 12.000 liter berhasil disalurkan dalam satu hari. Bantuan tersebut memberikan manfaat langsung bagi 420 keluarga atau sekitar 2.100 jiwa yang bertahan hidup di kawasan pengungsian.
Tantangan Distribusi di Tengah Konflik
Konflik berkepanjangan telah membawa dampak luar biasa bagi Sudan. Selain kehilangan tempat tinggal, para pengungsi harus menghadapi krisis air bersih yang parah. Kerusakan infrastruktur, terbatasnya sumber air, serta situasi keamanan yang fluktuatif menjadi tantangan besar dalam proses penyaluran bantuan.
Untuk memenuhi kebutuhan warga di Kamp Thuwaibah, air bersih dibeli dari penyedia air yang masih beroperasi, kemudian diangkut menggunakan truk tangki menuju lokasi pengungsian yang cukup jauh. Seluruh proses distribusi dijalankan sesuai jadwal serta didokumentasikan secara transparan sebagai bentuk akuntabilitas program.
Air bersih yang disalurkan dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan pokok seperti minum, memasak, dan menjaga kebersihan diri. Bantuan ini sekaligus menjadi langkah preventif untuk menekan risiko timbulnya penyakit akibat krisis air dan lingkungan yang kurang higienis.
Kendati demikian, kebutuhan di lapangan masih sangat tinggi. Lonjakan harga bahan bakar minyak (solar) akibat konflik internal turut memicu kenaikan biaya distribusi. Ditambah jarak tempuh yang jauh serta pasokan air yang terbatas, bantuan yang disalurkan belum mampu menjangkau seluruh pengungsi yang membutuhkan.
Komitmen Berkelanjutan Bersamai Masyarakat Sudan
Koordinasi intensif antara pihak di Indonesia dan Sudan terus dilakukan demi kelancaran penyaluran bantuan. Tim LAZNAS Al Irsyad Purwokerto berkala berkoordinasi dengan mitra lokal di Sudan melalui pesan singkat WhatsApp untuk memantau situasi terkini di lapangan.
Staf Kemanusiaan LAZNAS Al Irsyad Purwokerto, Ali, menyampaikan bahwa laporan dari lapangan menunjukkan kebutuhan air bersih di Sudan masih sangat mendesak dan memerlukan dukungan dari banyak pihak.
“Kami terus berkoordinasi dengan mitra di Sudan untuk memantau perkembangan kondisi di lapangan. Kebutuhan air bersih di sana masih sangat besar, sementara jangkauan distribusi kami masih terbatas. Insya Allah, LAZNAS Al Irsyad berkomitmen untuk terus menyalurkan bantuan kemanusiaan secara konsisten agar semakin banyak saudara-saudara kita di Sudan yang terbantu,” ujar Ali.


