LAZNAS Al-Irsyad Purwokerto

Meneladani Kedermawanan Abu Bakar: Sedekah yang Mengantarkan pada Ridha Allah

Oleh : Chairun Nissa Rodja

Sedekah bukan sekadar memberikan sebagian harta kepada mereka yang membutuhkan. Lebih dari itu, sedekah merupakan bukti keimanan, wujud rasa syukur, sekaligus investasi terbaik untuk kehidupan akhirat. Setiap rupiah yang dikeluarkan di jalan Allah tidak akan pernah mengurangi harta, justru Allah menjanjikan balasan yang berlipat ganda bagi hamba-Nya yang ikhlas berinfak.

Janji tersebut ditegaskan dalam firman Allah SWT:

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261).

Ayat ini menggambarkan bahwa sedekah bukanlah pengeluaran yang sia-sia. Sebaliknya, sedekah adalah benih kebaikan yang terus tumbuh dan menghasilkan pahala berlipat. Bahkan, Allah mampu melipatgandakan balasan itu melebihi tujuh ratus kali lipat sesuai dengan kehendak-Nya. Karena itu, orang yang gemar bersedekah sesungguhnya sedang menanam bekal terbaik untuk kehidupan yang kekal.

Keteladanan Abu Bakar dalam Bersedekah

Di antara teladan paling agung dalam bersedekah adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Sahabat terdekat Rasulullah ﷺ ini dikenal sebagai pribadi yang selalu mendahulukan kepentingan agama dibandingkan kepentingan pribadinya. Ketika kesempatan berinfaq datang, beliau tidak pernah setengah hati.

Suatu hari Rasulullah ﷺ mengajak para sahabat untuk bersedekah. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu yang saat itu memiliki banyak harta merasa optimis dapat mengungguli Abu Bakar. Umar pun membawa separuh dari seluruh hartanya dan menyerahkannya kepada Rasulullah ﷺ.

Rasulullah ﷺ kemudian bertanya, “Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?” Umar menjawab bahwa ia masih menyisakan separuh hartanya.

Tak lama kemudian, Abu Bakar datang membawa seluruh harta yang dimilikinya. Rasulullah ﷺ kembali bertanya, “Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?”

Dengan penuh keyakinan Abu Bakar menjawab, “Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.”

Mendengar jawaban tersebut, Umar berkata, “Demi Allah, aku tidak akan pernah bisa mengungguli Abu Bakar sedikit pun.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Kisah ini menunjukkan bahwa nilai sedekah tidak hanya diukur dari jumlah yang diberikan, tetapi juga dari keyakinan, keikhlasan, dan tawakal kepada Allah. Abu Bakar menyerahkan seluruh hartanya bukan karena ingin dipuji manusia, melainkan karena ia benar-benar yakin bahwa Allah adalah sebaik-baik Penjamin kehidupan keluarganya.

Keikhlasan Abu Bakar juga tercermin dalam keluarganya. Putrinya, Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha, menjadi saksi bagaimana sang ayah mengutamakan perjuangan Islam di atas kepentingan dunia.

Ketika Abu Bakar hijrah bersama Rasulullah ﷺ, beliau membawa seluruh hartanya yang berjumlah sekitar lima atau enam ribu dirham. Kakeknya Asma’, Abu Quhafah yang telah lanjut usia dan buta, merasa khawatir karena mengira Abu Bakar meninggalkan keluarganya tanpa harta sedikit pun.

Asma’ kemudian mengambil beberapa batu, meletakkannya di tempat penyimpanan harta, lalu menutupinya dengan kain. Ia menggandeng tangan kakeknya agar menyentuh batu-batu tersebut. Setelah merabanya, Abu Quhafah merasa tenang dan mengira Abu Bakar masih meninggalkan bekal yang cukup bagi keluarganya.

Setelah itu Asma’ mengakui bahwa sebenarnya ayahnya tidak meninggalkan harta sedikit pun. Ia melakukan hal tersebut semata-mata agar sang kakek tidak bersedih. Kisah yang diriwayatkan Imam Ahmad ini menggambarkan betapa seluruh keluarga Abu Bakar memiliki keimanan, pengorbanan, dan kerelaan yang luar biasa demi agama Allah.

Sedekah Terbaik Adalah yang Istiqomah

Mungkin tidak semua orang mampu meneladani Abu Bakar dengan menyerahkan seluruh hartanya. Namun, Islam tidak pernah membebani seseorang diluar kemampuannya. Yang terpenting adalah membiasakan diri untuk bersedekah secara ikhlas, rutin, dan penuh harapan kepada Allah.

Sedekah yang dilakukan secara istiqomah, meskipun nilainya tidak besar, tetap memiliki kedudukan mulia di sisi Allah. Setiap bantuan yang kita berikan dapat menjadi sebab hadirnya kebahagiaan bagi orang lain, meringankan beban saudara yang kesulitan, sekaligus menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.

Karena itu, sudah sepatutnya kita bertanya kepada diri sendiri, berapa bagian dari rezeki yang telah kita keluarkan untuk perjuangan Islam dan membantu sesama? Pertanyaan ini bukan untuk membandingkan diri dengan Abu Bakar, melainkan sebagai motivasi agar kita terus meningkatkan kepedulian dan semangat berbagi.

Jalan menuju surga terbuka melalui banyak pintu, dan sedekah adalah salah satu jalan yang paling mudah sekaligus paling dicintai Allah. Semoga Allah SWT menanamkan keikhlasan dalam hati kita, melapangkan rezeki yang halal dan berkah, serta memberikan kekuatan untuk terus bersedekah di jalan-Nya. Dengan begitu, setiap harta yang kita keluarkan akan menjadi saksi kebaikan yang mengantarkan kita menuju ridha dan surga-Nya.

Scroll to Top