Oleh: Chairun Nissa Rodja
Pembangunan beton dan alih fungsi lahan hijau sering dipuji sebagai simbol kemajuan daerah. Namun, ada harga mahal yang harus dibayar dibalik tertutupnya permukaan tanah oleh aspal dan semen: hilangnya daerah resapan air alami. Ketika hujan turun, air tidak lagi meresap mengisi akuifer air tanah, melainkan langsung terbuang menjadi limpasan permukaan. Akibatnya, saat kemarau tiba, daerah-daerah tersebut menjadi yang paling cepat kehilangan cadangan air sumurnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kekeringan bukanlah peristiwa yang muncul secara tiba-tiba. Di balik tanah yang retak dan sumber air yang menghilang, terdapat berbagai faktor yang saling berkaitan. Sebagian memang dipengaruhi oleh kondisi alam, tetapi tidak sedikit yang berasal dari aktivitas manusia sendiri.
Ironisnya, ketika sebagian wilayah berjuang mendapatkan setetes air, daerah lain justru masih menggunakan air secara berlebihan. Alih fungsi lahan terus berlangsung, kawasan resapan semakin menyempit, sementara perubahan iklim membuat pola hujan semakin sulit diprediksi. Kombinasi berbagai faktor inilah yang menyebabkan ancaman kekeringan semakin besar dari tahun ke tahun.
Faktor Alam yang Memicu Terjadinya Kekeringan
Kekeringan memang identik dengan musim kemarau, tetapi penyebabnya jauh lebih kompleks daripada sekadar tidak turunnya hujan. Indonesia memiliki kondisi geografis yang membuat perubahan cuaca berlangsung cukup dinamis. Sebagai negara yang berada di wilayah monsun, Indonesia dipengaruhi oleh pergerakan angin yang berubah mengikuti musim. Ketika angin panas mendominasi dan musim kemarau berlangsung lebih lama, kandungan air di tanah perlahan berkurang sehingga berbagai sumber air ikut menyusut.
Rendahnya curah hujan menjadi faktor berikutnya yang memperparah kondisi tersebut. Perubahan iklim menyebabkan pembentukan awan hujan tidak lagi berlangsung seperti biasanya. Beberapa wilayah mengalami musim hujan yang lebih singkat, sedangkan musim kemarau berlangsung lebih panjang. Akibatnya, cadangan air yang tersimpan di dalam tanah tidak memiliki cukup waktu untuk terisi kembali.
Selain itu, kerusakan pada sistem hidrologi turut mempercepat terjadinya kekeringan. Waduk yang mengalami sedimentasi dan saluran irigasi yang tidak lagi mampu menampung air dalam jumlah besar membuat pasokan air semakin terbatas ketika musim kemarau datang.
Di tingkat global, pemanasan bumi atau global warming menjadi tantangan yang semakin nyata. Kenaikan suhu menyebabkan pola cuaca berubah secara ekstrim. Hujan turun dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat, kemudian disusul kemarau panjang. Kondisi ini membuat tanah kehilangan kesempatan menyerap air secara optimal.
Aktivitas Manusia Turut Memperparah Krisis Air
Di samping faktor alam, aktivitas manusia memiliki pengaruh besar terhadap meningkatnya risiko kekeringan. Salah satu penyebab yang paling sering terjadi adalah berkurangnya kawasan resapan air. Lahan terbuka yang sebelumnya mampu menyerap air hujan kini berubah menjadi kawasan permukiman, gedung, jalan, maupun area industri. Permukaan yang tertutup beton membuat air hujan langsung mengalir menuju sungai tanpa sempat meresap ke dalam tanah.
Cadangan air tanah pun semakin menipis akibat pengambilan air yang dilakukan secara terus-menerus. Kebutuhan rumah tangga, pertanian, hingga sektor industri mendorong penggunaan air dalam jumlah besar setiap hari. Jika pengambilan tersebut tidak diimbangi dengan proses pengisian kembali melalui resapan alami, maka sumur-sumur warga akan lebih cepat mengering ketika musim kemarau tiba.
Tidak hanya itu, kebiasaan menggunakan air secara boros juga menjadi penyebab yang sering kali tidak disadari. Membiarkan keran terus mengalir atau menggunakan air secara berlebihan merupakan perilaku yang perlahan mengurangi cadangan air.
Kekeringan mengajarkan bahwa menjaga air tidak bisa hanya dilakukan ketika musim kemarau datang. Upaya pelestarian lingkungan, menjaga kawasan resapan, menghemat penggunaan air, hingga mendukung penyediaan akses air bersih bagi masyarakat yang membutuhkan merupakan bagian dari solusi yang harus dilakukan bersama.
Inilah yang terus diupayakan oleh LAZNAS Al Irsyad melalui berbagai program penyediaan air bersih dan pembangunan sumur bor di wilayah yang mengalami krisis air. Setiap sumur yang dibangun bukan hanya menghadirkan akses air, tetapi juga mengurangi beban ekonomi keluarga, menjaga kesehatan masyarakat, memudahkan aktivitas ibadah, serta membuka harapan baru bagi ribuan penerima manfaat.


