LAZNAS Al-Irsyad Purwokerto

Mengapa Debit Air Menurun Saat Kemarau? Memahami Penyebabnya agar Kita Lebih Peduli

Oleh: Chairun Nissa Rodja

Mengapa sumur galian yang biasanya melimpah mendadak dangkal atau mengering sama sekali saat musim kemarau? Secara teknis, fenomena ini berkaitan erat dengan konsep dinamika air tanah dan penurunan water table (muka air tanah). Menurut Dr. Ir. Ani Hairani, S.T., M.Eng., Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bidang Teknik Keairan dan Lingkungan, kekeringan yang memicu penurunan debit air ini terbagi secara sistematis ke dalam tiga fase utama yang saling berhubungan: meteorologis, hidrologis, dan pertanian.

Fenomena ini bukan sekadar perasaan masyarakat. Secara ilmiah, penurunan debit air saat musim kemarau memang merupakan proses alam yang dipengaruhi berbagai faktor. Sayangnya, perubahan iklim membuat kondisi tersebut semakin parah dari tahun ke tahun. Akibatnya, jutaan masyarakat menghadapi ancaman kekurangan air yang berdampak pada kesehatan, pendidikan, hingga perekonomian keluarga.

Memahami penyebab debit air menurun bukan hanya menambah pengetahuan. Lebih dari itu, pemahaman ini dapat menumbuhkan kepedulian bahwa air adalah nikmat yang harus dijaga bersama dan diperjuangkan agar tetap dapat dinikmati oleh semua orang.

Mengapa Debit Air Berkurang Saat Kemarau?

Dalam artikel ilmiahnya, Dr. Ani Hairani menjelaskan tiga jenis kekeringan tersebut:

Pertama, kekeringan meteorologis, yaitu kondisi ketika curah hujan berada jauh dibawah normal dalam periode tertentu.

Kedua, kekeringan hidrologis, yang ditandai dengan menurunnya ketersediaan air di sungai, danau, waduk, maupun air tanah.

Ketiga, kekeringan pertanian, yakni ketika kandungan air di dalam tanah tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan tanaman untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.

Ketiga jenis kekeringan tersebut saling berkaitan. Saat hujan jarang turun, air yang biasanya meresap ke dalam tanah ikut berkurang. Akibatnya, cadangan air tanah tidak terisi kembali. Sumur menjadi semakin dangkal, mata air mengecil, dan debit air yang keluar terus menurun.

Menurut Dr. Ani Hairani, faktor utama yang menyebabkan kondisi tersebut memang berkaitan dengan menurunnya curah hujan. Namun, saat ini dampaknya semakin besar akibat perubahan iklim global. Fenomena El Niño yang secara alami terjadi menjadi semakin ekstrem karena dipengaruhi perubahan iklim. Akibatnya, musim kemarau berlangsung lebih panjang, suhu udara meningkat, penguapan semakin tinggi, sementara curah hujan terus menurun.

Di berbagai daerah Indonesia, terutama wilayah yang mengalami musim kemarau panjang, masyarakat bahkan harus membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa air bukan sekadar kebutuhan dasar, melainkan penopang utama kehidupan.

Air adalah Amanah, Menjaganya Menjadi Tanggung Jawab Bersama

Dalam Islam, air merupakan salah satu nikmat terbesar yang Allah SWT anugerahkan kepada manusia. Melalui air, kehidupan dapat berlangsung, tanaman tumbuh, hewan bertahan hidup, dan manusia dapat menjalankan aktivitasnya setiap hari. Karena itu, menjaga ketersediaan air bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau lembaga tertentu, melainkan tanggung jawab seluruh masyarakat.

Salah satu langkah nyata untuk mengurangi dampak kekeringan adalah menjaga lingkungan agar daerah resapan air tetap berfungsi dengan baik. Menanam pohon, tidak merusak hutan, menggunakan air secara bijak, serta menjaga kebersihan sungai merupakan upaya sederhana yang memberikan dampak besar bagi keberlangsungan sumber air di masa depan.

Di sisi lain, masih banyak saudara kita yang membutuhkan bantuan untuk memperoleh akses air yang layak. Pembangunan sumur bor, penyediaan jaringan air bersih, hingga perbaikan sarana air menjadi solusi nyata yang mampu mengubah kehidupan masyarakat. Ketika air tersedia, anak-anak dapat belajar dengan tenang, masyarakat tidak lagi menghabiskan waktu berjam-jam mencari air, dan penghasilan keluarga tidak lagi terkuras hanya untuk membeli kebutuhan paling mendasar.

Inilah mengapa kepedulian terhadap krisis air tidak boleh berhenti pada rasa prihatin. Dibutuhkan aksi nyata agar semakin banyak masyarakat dapat menikmati hak yang sama untuk memperoleh akses air yang layak. Setiap ikhtiar yang dilakukan, termasuk melalui dukungan terhadap program penyediaan air bersih dan sumur bor, dapat menjadi jalan hadirnya kehidupan yang lebih baik bagi mereka yang selama ini berjuang menghadapi kekeringan.



Scroll to Top