Oleh Ustaz Qomaruddin
Manajer Marketing dan Komunikasi LAZNAS Al Irsyad Purwokerto
Ketua Lajnah Media dan Humas PC Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto
Setiap kali kita melihat para relawan yang tampak begitu heroik menolong masyarakat — menembus banjir, memikul logistik, dan mengulurkan tangan di tengah bencana — ingatlah bahwa di balik mereka ada sosok-sosok lain yang juga berjuang. Mereka yang menanggung akomodasi, perlengkapan, dan dukungan teknis lainnya. Mereka mungkin tak berada di garis depan, tetapi tanpa mereka, banyak langkah kemanusiaan tak akan pernah bisa dimulai.
Ketika bencana melanda atau kemiskinan menjerat, selalu ada tangan-tangan yang bekerja dalam diam. Mereka tak selalu tampak di layar televisi, tapi justru karena mereka, bantuan tiba tepat waktu, dapur umum berjalan, dan kehidupan kembali berdenyut.
Mereka adalah para dermawan — orang-orang yang membiayai perjuangan kemanusiaan, penjaga kehidupan yang menopang peradaban dengan ketulusan.
Dua Sisi dari Sebuah Perjuangan
Islam menempatkan peran mereka pada posisi yang mulia. Allah SWT berfirman:
“Dan orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan pertolongan (kepada mereka), mereka itu satu sama lain saling melindungi…” (QS. Al-Anfāl [8]: 72)
Ayat ini menggambarkan dua bentuk perjuangan: mereka yang beraksi di lapangan, dan mereka yang mendukung dengan harta. Keduanya saling melengkapi, karena tanpa yang menopang, perjuangan tak akan berjalan.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Barang siapa yang mempersiapkan (perbekalan) bagi seorang pejuang di jalan Allah, maka dia dianggap ikut berjuang.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa siapa pun yang membiayai perjuangan — bahkan tanpa hadir di medan amal — tetap mendapat pahala setara dengan pejuang itu sendiri.
Kebaikan yang Menyalakan Harapan
Melalui Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (ZISWAF), para dermawan hari ini menjadi bagian dari perjuangan itu. Mereka membantu anak yatim tetap bersekolah, keluarga dhuafa bertahan hidup, dan masyarakat terdampak bencana bangkit kembali.
Karena sesungguhnya, setiap rupiah yang dikeluarkan dengan ikhlas bukan hanya memberi makan, tapi menyalakan harapan. Dan dari harapan itulah, kemanusiaan terus tumbuh.

