Setiap pagi di Pulau Ende, Nusa Tenggara Timur, anak-anak harus menghadapi tantangan yang tidak dialami kebanyakan pelajar di tempat lain. Sebelum berangkat sekolah, mereka kerap kesulitan menemukan air tawar untuk mandi. Jerigen-jerigen kecil harus dibawa berjalan jauh demi mendapatkan air, sementara waktu sekolah terus mendekat.

“Kadang saya hanya cuci muka sedikit, lalu langsung pakai seragam,” ungkap Atika salah satu siswa di SD Matinumba 2 Pulau Ende. Air tawar yang terbatas membuat mereka terpaksa berhemat, meski sebenarnya ingin berangkat sekolah dalam keadaan bersih dan segar.
Bukan hanya anak-anak, para orang tua pun menghadapi kenyataan yang lebih berat. Untuk beribadah, sebagian warga terpaksa berwudhu dengan air laut atau air sumur yang asin karena tidak ada pilihan lain. Air tawar hanya digunakan untuk minum dan memasak.

Harga air tawar di Pulau Ende tergolong mahal, mencapai Rp7.500 per jerigen kecil. Angka itu tentu sangat membebani para nelayan dan petani ubi yang hidup dengan penghasilan terbatas. Dari sembilan desa yang ada, hanya dua desa yang memiliki sumber air permanen, itupun rasanya masih asin.
Di tengah keterbatasan itu, hadir secercah harapan. LAZNAS Al Irsyad bersama LAZISWAF Al Hilal Bandung sedang berupaya mewujudkan Program Sumur Bor agar warga Pulau Ende memiliki akses air bersih. Program ini diharapkan bisa membantu anak-anak berangkat sekolah dengan layak, serta orang tua dapat beribadah dengan wudhu menggunakan air tawar.
Saat ini, program masih dalam tahap survey geologi untuk menemukan sumber air dalam yang berkelanjutan. Bila terwujud, kehidupan warga Pulau Ende akan berubah, anak-anak dapat belajar dengan lebih nyaman, sementara orang tua bisa beribadah dengan tenang.

