Aceh, Sabtu 21 Februari 2026, Tiga bulan pascabanjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, kondisi masyarakat masih jauh dari pulih. Lumpur yang mengeras setinggi pinggang orang dewasa masih menutup banyak permukiman warga. Sejumlah rumah rusak berat bahkan hanyut, sehingga banyak keluarga kehilangan tempat tinggal.
Sebagian warga saat ini masih tinggal di hunian sementara atau menumpang di rumah kerabat. Aktivitas ekonomi dan sosial juga belum berjalan normal karena kondisi lingkungan yang belum sepenuhnya bersih dan aman. Pemulihan membutuhkan waktu, tenaga, dan dukungan dari berbagai pihak.
Merespons kondisi tersebut, LAZNAS Al Irsyad menggulirkan program pembangunan Rumoh Aceh Mandiri bagi keluarga terdampak. Saat ini sedang dibangun 51 unit rumah sebagai bagian dari target awal sebanyak 80 unit rumah untuk para penyintas banjir dan longsor.
Pembangunan rumah tersebar di beberapa wilayah terdampak. Sebanyak 27 unit dibangun di Kecamatan Bendahara. Kemudian 20 unit didirikan di Desa Alurmanis, Kecamatan Rantau. Sementara itu, 3 unit lainnya dibangun di Desa Menangara, Kecamatan Karangbaru.
Setiap rumah memiliki ukuran 5×6 meter dan dirancang sebagai hunian sederhana yang layak dan aman. Desain ini disesuaikan dengan kebutuhan dasar keluarga, agar mereka dapat segera menempati rumah dan kembali menjalani kehidupan secara mandiri.
Proses pembangunan dilakukan secara bertahap dan sistematis. Tahapan dimulai dari persiapan serta pembersihan lahan, kemudian dilanjutkan dengan pembuatan pondasi. Setelah pondasi selesai, tim membangun rangka rumah dan memasang dinding batu bata.
Tahap berikutnya meliputi pemasangan atap untuk melindungi bangunan dari cuaca. Setelah itu dilakukan pemasangan dinding kalsiboard, pemasangan pintu dan jendela, serta pengecoran lantai sebagai tahap akhir penyelesaian bangunan.
Pelaksanaan pembangunan mengedepankan semangat gotong royong. Relawan bersama warga setempat turut terlibat dalam proses pengerjaan agar pembangunan dapat berjalan lebih cepat dan efisien.
Meski demikian, proses pembangunan di lapangan menghadapi berbagai kendala. Kondisi tanah yang masih berlumpur menjadi tantangan utama dalam tahap awal pembangunan.
Latif, relawan LAZNAS Al Irsyad yang bertugas di Aceh, menjelaskan situasi tersebut. “Tanah di beberapa lokasi masih berlumpur tebal. Sebelum membangun, kami harus membersihkan dan meratakan lahan terlebih dahulu agar pondasi kuat dan aman,” ujarnya.
Selain itu, distribusi material juga menjadi hambatan. Akses menuju lokasi terdampak belum sepenuhnya pulih sehingga pengiriman bahan bangunan membutuhkan waktu lebih lama.
“Material belum semuanya lengkap karena sulitnya barang masuk ke lokasi bencana. Akses jalan masih terbatas, jadi kami harus menunggu atau mencari alternatif pengiriman,” tambah Latif.
Rata-rata rumah warga di wilayah terdampak mengalami kerusakan berat akibat banjir dan longsor. Banyak keluarga kehilangan seluruh harta benda mereka dan harus memulai kembali dari nol.
Melalui pembangunan Rumoh Aceh Mandiri, LAZNAS Al Irsyad berharap para penyintas dapat segera memiliki hunian tetap yang layak. Program ini tidak hanya membangun rumah secara fisik, tetapi juga membantu memulihkan rasa aman dan harapan masyarakat. Mari bersama menjadi bagian dari ikhtiar kebaikan ini. Uluran tangan para muhsinin akan sangat berarti untuk mempercepat pembangunan hingga target 80 rumah dapat terwujud. Setiap sedekah yang dititipkan melalui LAZNAS Al Irsyad bukan sekadar bantuan materi, tetapi juga harapan baru bagi saudara-saudara kita di Aceh.


