ACEH TAMIANG – Enam bulan lalu, banjir bandang memporak-porandakan kehidupan ribuan warga Aceh Tamiang. Rumah-rumah rusak, aktivitas lumpuh, dan banyak keluarga harus bertahan di tengah keterbatasan. Kini, harapan itu berdiri kokoh dalam wujud 54 Rumoh Aceh Mandiri yang resmi diserahterimakan kepada masyarakat (28/6).
Prosesi serah terima yang berlangsung sejak pagi menjadi penanda berakhirnya satu fase tanggap darurat sekaligus dimulainya babak baru bagi puluhan keluarga penerima manfaat. Sebanyak 54 unit rumah tersebut tersebar di tiga kecamatan, yakni Bendahara, Rantau, dan Karang Baru.

Acara diawali dengan pemaparan realisasi Program Tanggap Darurat banjir bandang yang dijalankan LAZNAS Al Irsyad sejak awal Desember 2025. Program itu tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga memastikan masyarakat tetap memperoleh layanan penting selama masa krisis.
Sebanyak 18 relawan LAZNAS Al Irsyad diterjunkan secara bergantian untuk mendampingi masyarakat terdampak. Mereka mengoperasikan dapur umum, menyalurkan paket sembako, membuka pos kesehatan dengan dukungan empat tenaga perawat beserta persediaan obat-obatan, hingga menghadirkan berbagai fasilitas pendukung seperti genset, perangkat komunikasi Starlink, water purifier, tandon air untuk kebutuhan MCK, mushaf Al-Qur’an, pakaian layak pakai, dan berbagai bantuan lainnya.
Rangkaian bantuan tersebut menjadi fondasi sebelum proses rehabilitasi dan pembangunan rumah dilakukan. Bagi masyarakat Aceh Tamiang, rumah yang kini berdiri bukan sekadar bangunan, melainkan simbol bahwa mereka tidak berjalan sendiri menghadapi dampak bencana.
Dari Masa Darurat Menuju Kehidupan yang Lebih Baik
Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang mengapresiasi kontribusi berbagai pihak yang terus mendampingi masyarakat sejak masa tanggap darurat hingga proses pemulihan.
Dalam sambutan yang disampaikan Wakil Bupati Aceh Tamiang, Ismail, S.E.I., pemerintah daerah menyampaikan terima kasih kepada Al Irsyad Al Islamiyyah melalui LAZNAS Al Irsyad atas kepedulian dan dukungan yang diberikan kepada masyarakat.

Menurutnya, bantuan tersebut menjadi bagian penting dalam membantu warga kembali menjalani kehidupan yang lebih baik setelah diterpa banjir bandang. Sinergi antara pemerintah, lembaga kemanusiaan, relawan, dan masyarakat dinilai menjadi kunci percepatan proses pemulihan di Aceh Tamiang.
Momentum serah terima rumah juga dihadiri berbagai unsur pemerintah dan mitra strategis. Hadir di antaranya perwakilan Kodim 0117 Aceh Tamiang melalui Danramil Rantau, Kepala Pelaksana BPBD, Pelaksana Tugas Kepala Dinas PUPR, Camat Rantau, para kepala desa dari Alur Manis, Matang Tepah, dan Seuneubok Dalam.
Turut hadir pula sejumlah mitra kerja LAZNAS Al Irsyad, yakni Direktur Politeknik Penerbangan Medan, Direktur Politeknik Penerbangan Palembang, Direktur Kesyahbandaran dan Otorita Pelabuhan Samarinda, Presiden Ikatan Pilot Alumni Curug (IPAC), Ketua Asosiasi Pilot Citilink (APIC), tokoh masyarakat, alim ulama, relawan lokal, serta mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Nahdlatul Ulama Medan.
Kehadiran para mitra tersebut menunjukkan bahwa pemulihan pasca bencana tidak mungkin diwujudkan oleh satu pihak saja. Kolaborasi lintas lembaga menjadi kekuatan yang mempercepat hadirnya solusi nyata bagi masyarakat.
Rumah Baru, Semangat Baru untuk Masa Depan
Ketua Umum Pimpinan Pusat Al Irsyad Al Islamiyyah dalam pesannya berharap seluruh bantuan yang telah diberikan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh masyarakat penerima manfaat.
Ia juga mengajak seluruh pihak untuk terus menjaga tali silaturahmi yang telah terjalin selama proses pendampingan. Menurutnya, pembangunan 54 Rumoh Aceh Mandiri menjadi bukti kuat bahwa keberhasilan sebuah program kemanusiaan lahir dari dukungan dan kerja sama masyarakat yang aktif.
Dalam kesempatan tersebut, ia turut menyampaikan permohonan maaf apabila selama pelaksanaan berbagai program LAZNAS Al Irsyad di Aceh Tamiang terdapat ucapan maupun tindakan yang kurang berkenan.
Pesan itu menegaskan bahwa nilai kemanusiaan bukan hanya diukur dari banyaknya bantuan yang disalurkan, tetapi juga dari kerendahan hati untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan menjaga hubungan baik dengan masyarakat.
Kini, di atas tanah yang beberapa bulan lalu sempat terendam banjir, berdiri puluhan rumah yang membawa harapan baru. Bagi 54 keluarga penerima manfaat, rumah tersebut bukan sekadar tempat berteduh. Ia menjadi simbol kebangkitan, awal kehidupan yang lebih layak, sekaligus bukti bahwa kepedulian yang dikerjakan bersama mampu mengubah duka menjadi harapan.


