LAZNAS Al-Irsyad Purwokerto

Belajar Menangkap Cahaya, Penerima Beasiswa LAZNAS Al Irsyad Asah Kreativitas Lewat Pelatihan Fotografi

Purwokerto – Suasana Oemah Sinau LAZNAS Al Irsyad Purwokerto pada Ahad (2/8/2026) tampak berbeda dari biasanya. Kamera, telepon genggam, hingga tawa para peserta mewarnai pertemuan rutin penerima Beasiswa Pendidikan. Kali ini, anak-anak tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga diajak memahami bagaimana sebuah foto mampu menyampaikan cerita, emosi, bahkan menginspirasi banyak orang.

Pertemuan rutin tersebut menghadirkan Leman, salah satu penerima manfaat Beasiswa Cendekia LAZNAS Al Irsyad, sebagai pemateri. Mengangkat tema “Seni Menangkap Cahaya”, Leman membagikan pengalaman sekaligus pengetahuan dasar mengenai dunia fotografi kepada peserta. Materi yang disampaikan tidak hanya mudah dipahami, tetapi juga langsung dipraktekkan sehingga membuat suasana belajar menjadi lebih hidup.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pembinaan penerima beasiswa tidak hanya berfokus pada peningkatan prestasi akademik. LAZNAS Al Irsyad juga terus membuka ruang bagi anak-anak untuk mengembangkan keterampilan, kreativitas, dan kepercayaan diri sebagai bekal menghadapi masa depan.

Memahami Fotografi dari Dasar hingga Praktik Langsung

Dalam pemaparannya, Leman mengajak peserta memahami bahwa fotografi bukan sekadar menekan tombol kamera. Setiap gambar yang dihasilkan lahir dari perpaduan teknik, kreativitas, dan kemampuan melihat momen yang mungkin terlewat oleh orang lain.

Ia menjelaskan perbedaan antara kamera profesional dan kamera telepon genggam. Menurutnya, keduanya memiliki kelebihan masing-masing. Kamera profesional memang menawarkan pengaturan yang lebih lengkap, tetapi kamera pada ponsel saat ini juga mampu menghasilkan foto yang berkualitas apabila digunakan dengan teknik yang tepat.

Peserta kemudian dikenalkan dengan tiga elemen dasar dalam fotografi, yaitu aperture, shutter speed, dan ISO.

Aperture atau diafragma berfungsi mengatur jumlah cahaya yang masuk ke sensor kamera sekaligus menentukan kedalaman fokus. Bukaan diafragma yang lebar dapat menghasilkan efek latar belakang kabur atau bokeh, sehingga objek utama tampak lebih menonjol.

Selanjutnya, peserta mempelajari shutter speed, yaitu pengaturan lamanya sensor menerima cahaya. Kecepatan tinggi mampu membekukan gerakan sehingga cocok digunakan saat memotret objek yang bergerak cepat. Sebaliknya, kecepatan rendah dapat menciptakan efek jejak cahaya atau bayangan yang memberikan kesan artistik pada foto.

Materi berikutnya membahas ISO, yakni tingkat sensitivitas sensor terhadap cahaya. Nilai ISO yang rendah menghasilkan foto lebih bersih dan minim gangguan (noise), sehingga ideal digunakan pada kondisi terang. Sementara itu, ISO yang tinggi membantu saat memotret di tempat minim cahaya, meskipun berpotensi menimbulkan bintik-bintik pada hasil foto.

Agar materi lebih mudah dipahami, peserta langsung mempraktekkan teori yang telah dipelajari. Mereka mencoba mengambil gambar dari berbagai sudut, mengatur pencahayaan, serta bereksperimen menggunakan kamera maupun telepon genggam. Suasana belajar pun berubah menjadi penuh antusiasme karena setiap peserta bebas mengeksplorasi kreativitasnya.

Kreativitas Lebih Penting daripada Harga Kamera

Salah satu pesan yang paling membekas dalam sesi tersebut adalah bahwa fotografi tidak ditentukan oleh mahal atau murahnya sebuah kamera. Leman menekankan bahwa kualitas sebuah foto lebih banyak dipengaruhi oleh kemampuan fotografer dalam memanfaatkan cahaya, menentukan sudut pandang, dan menangkap emosi di balik sebuah momen.

Ia menjelaskan bahwa sekitar 80 persen kualitas foto berasal dari pencahayaan, komposisi, sudut pengambilan gambar, serta cerita yang ingin disampaikan. Sementara itu, spesifikasi kamera hanya berkontribusi sekitar 20 persen. Pesan ini menjadi penyemangat bagi para peserta untuk terus berkarya tanpa merasa minder dengan peralatan yang mereka miliki.

Melalui kegiatan ini, LAZNAS Al Irsyad Purwokerto berharap para penerima Beasiswa Cendekia tidak hanya tumbuh sebagai pelajar yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki keterampilan yang dapat terus dikembangkan sesuai minat dan bakat masing-masing. Fotografi menjadi salah satu media untuk melatih kepekaan, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, sekaligus keberanian mengekspresikan ide.

Scroll to Top