Siang itu langit Banyumas tampak mendung saat rombongan dari SMA IT Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto bersama LAZNAS Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto menyusuri jalan kecil menuju Desa Karangkemiri, Kecamatan Karanglewas. Kedatangan mereka membawa perasaan yang berbeda bagi Sumirah. Di tengah kesederhanaan hidupnya, perempuan itu akhirnya mendapat perhatian dari program sosial yang datang langsung ke rumahnya.

Karena itu, perempuan yang bekerja sebagai buruh harian lepas tersebut menyambut kedatangan tim dengan senyum sederhana. Di rumah kecil yang ia tempati bersama seorang cucunya, Sumirah mencoba bertahan di tengah keterbatasan hidup.
Dinding rumahnya mulai rapuh. Sebagian atap terlihat bocor. Saat hujan turun, air kerap masuk ke dalam rumah. Meski begitu, Sumirah tetap menjalani hari-harinya dengan penuh kesabaran.
Situasi itulah yang kemudian membuat kedatangan tim program Benah Rumah membawa harapan baru bagi dirinya. Program tersebut digagas SMA IT Al Irsyad Purwokerto bersama LAZNAS Al Irsyad Purwokerto sebagai bentuk kepedulian terhadap warga yang tinggal di rumah kurang layak huni.
Tidak hanya melihat kondisi bangunan, tim juga ingin memahami kehidupan keluarga penerima manfaat secara lebih dekat. Mereka juga berbincang langsung dengan keluarga penerima manfaat. Profiling dilakukan untuk mengetahui kondisi ekonomi keluarga, jumlah tanggungan, hingga kebutuhan mendesak yang harus diprioritaskan.
Ali Nugroho dari LAZNAS Al Irsyad Purwokerto mengatakan kegiatan itu menjadi langkah awal sebelum proses renovasi dilakukan.
“Kami ingin melihat langsung kondisi warga agar bantuan yang diberikan benar-benar sesuai kebutuhan mereka,” kata Ali.
Sementara proses pendataan berlangsung, siswa SMA IT Al Irsyad Purwokerto ikut membantu kegiatan survei di lapangan. Mereka memperhatikan setiap sudut rumah dan mendengarkan cerita warga dengan penuh empati.
Bagi pihak sekolah, keterlibatan siswa dalam kegiatan sosial seperti itu menjadi bagian penting dari pendidikan karakter. Para siswa tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga memahami kehidupan masyarakat secara nyata.
“Anak-anak belajar tentang kepedulian dan rasa syukur. Mereka bisa melihat langsung kondisi masyarakat yang membutuhkan bantuan,” ujar Ali.
Menyimpan Asa di Rumah Sederhana
Usai menyelesaikan survei di Karangkemiri, tim kemudian bergerak menuju Purwanegara, Kecamatan Purwokerto Barat. Di lokasi kedua, mereka menemui Slamet, seorang sales toko pertanian yang menjadi tulang punggung keluarga dengan lima anak.

Di lokasi itulah rumah Slamet berdiri sederhana di tengah lingkungan padat penduduk. Beberapa bagian bangunan tampak memerlukan perbaikan. Atap rumah terlihat mulai menua dan sirkulasi udara di dalam rumah kurang baik.
Kondisi tersebut membuat Slamet mengaku belum mampu melakukan renovasi besar untuk rumahnya karena penghasilannya terbatas. Kebutuhan sehari-hari keluarga menjadi prioritas utama.
Meski hidup dalam keterbatasan, Slamet tetap berusaha memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Ia berharap suatu hari keluarganya bisa tinggal di rumah yang lebih nyaman dan aman.
“Kalau rumah ini nanti diperbaiki, anak-anak pasti lebih nyaman belajar dan beristirahat,” kata Slamet.
Agar proses bantuan bisa berjalan lebih terarah, tim juga melakukan pengukuran bangunan rumah. Adi yang bertugas sebagai tukang mengukur setiap bagian rumah untuk menentukan kebutuhan renovasi.
Menurut Adi, pengukuran menjadi tahap penting agar proses perbaikan berjalan tepat sasaran.
“Kami harus menghitung kebutuhan bangunan dengan detail supaya renovasi nanti sesuai kondisi rumah,” ujar Adi.
Hasil pengukuran itu nantinya digunakan untuk menyusun rencana teknis renovasi. Tim akan menentukan bagian rumah yang harus diprioritaskan agar hunian menjadi lebih aman dan layak ditempati.
Lebih dari sekadar memperbaiki bangunan fisik, Program Benah Rumah juga membawa harapan baru bagi keluarga penerima manfaat. Di balik proses itu, ada harapan untuk menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga penerima manfaat.
Rumah yang nyaman memberi rasa aman. Rumah yang layak juga menjadi tempat tumbuh bagi harapan-harapan kecil dalam keluarga.
Bagi Sumirah dan Slamet, perhatian yang datang melalui program tersebut menjadi bukti bahwa masih banyak orang yang peduli. Bantuan yang diberikan mungkin tidak langsung mengubah seluruh kehidupan mereka, tetapi setidaknya membuka jalan menuju hari yang lebih baik.
Kegiatan survei hari itu berakhir menjelang siang. Tim kembali membawa catatan, hasil pengukuran, dan cerita dari dua keluarga sederhana di Banyumas.
Di balik dinding rumah yang mulai rapuh, tersimpan harapan besar tentang kehidupan yang lebih nyaman. Program Benah Rumah mencoba menjaga harapan itu tetap menyala.
Baca juga : Hangatnya Perhatian di Balik Penyaluran Janda Dhuafa di Purwokerto


