LAZNAS Al-Irsyad Purwokerto

Di Balik Perjalanan Ahmad Jaosan: Rindu, Air Mata, dan Harapan Seorang Anak Lombok

Di balik ramainya kehidupan kampus di Purwokerto, ada kisah perjuangan seorang pemuda asal Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, bernama Ahmad Jaosan. Jauh dari kampung halaman dan keluarga, Ahmad menjalani perjalanan panjang untuk menemukan keberanian, mimpi, dan versi terbaik dalam dirinya.

Sebelumnya, ia tumbuh dalam lingkungan sederhana dan menghabiskan enam tahun hidupnya di pondok pesantren. Hari-harinya hanya berkisar antara ruang belajar, masjid, dan kampung halaman. Dunia luar terasa begitu jauh baginya. Bahkan, Ahmad belum pernah membayangkan bisa merantau hingga ke Pulau Jawa untuk melanjutkan pendidikan.

Perjalanan itu bermula saat seorang temannya, Abdurrahman, memberi informasi tentang program Beasiswa Cendekia  kolaborasi Universitas Amikom Purwokerto dan LAZNAS Al Irsyad Purwokerto. Awalnya Ahmad sulit mempercayai kabar tersebut.

Baginya, kuliah tanpa biaya terasa seperti sesuatu yang mustahil. Namun, di tengah keraguan itu, muncul harapan kecil yang perlahan tumbuh menjadi keberanian. Ahmad mulai mengurus persyaratan dan meyakinkan keluarganya bahwa kesempatan itu layak diperjuangkan.

Keputusan merantau menjadi langkah besar dalam hidupnya. Untuk pertama kali, Ahmad meninggalkan Lombok seorang diri menuju Jawa. Ia bahkan baru pertama kali naik pesawat. Di balik rasa kagum melihat langit dari jendela pesawat, tersimpan ketakutan seorang anak muda yang sedang meninggalkan seluruh kenyamanan hidupnya demi sebuah masa depan.

Namun, perjuangan Ahmad ternyata tidak berhenti saat pesawat mendarat.

Setibanya di Yogyakarta, ia diliputi kebingungan. Dengan pengetahuan yang sangat minim tentang dunia luar, Ahmad hanya mengandalkan arahan dari temannya melalui telepon. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan kereta menuju Purwokerto. Bahkan untuk bertanya kepada sekitarnya saja, ia merasa gugup dan kebingungan.

Saat akhirnya ia tiba di Purwokerto, Ahmad mulai merasakan bagaimana sulitnya hidup jauh dari rumah. Kota baru itu terasa begitu asing baginya. Wajah-wajah yang ia temui belum pernah ia kenal sebelumnya. Tidak ada keluarga tempat bercerita, tidak ada teman dekat yang bisa menenangkan dirinya. Dalam kesendirian itu, rasa rindu kepada rumah dan keluarga perlahan tumbuh, lalu datang diam-diam setiap malam.

Di masa-masa awal itu, Ahmad sering bertanya dalam hati apakah dirinya benar-benar datang untuk kuliah atau justru sedang tersesat jauh dari rumah. Beberapa kali ia ingin menyerah dan pulang ke Lombok. Baginya, tinggal di rumah terasa jauh lebih nyaman dibanding bertahan di kota asing.

Namun, hidup perlahan mempertemukannya dengan orang-orang yang menguatkan langkahnya.

Futsal, Pertemanan, dan Keberanian Baru

Perubahan kecil mulai hadir saat Ahmad diajak bermain futsal bersama teman-temannya. Dari lapangan sederhana itu, ia mulai menemukan tawa dan kehangatan. Rasa sepi yang selama ini ia pendam perlahan menghilang. Untuk pertama kalinya sejak datang ke Purwokerto, Ahmad merasa tidak sendiri.

Berjalannya waktu perkuliahan pun dimulai, Ahmad dikenal sebagai sosok pendiam di kelas. Ia lebih banyak diam dan menunduk karena belum percaya diri berbicara dengan orang baru. Hingga akhirnya ia mengenal Rafly, teman pertama yang membuatnya merasa diterima tanpa dipandang berbeda.

Dari situlah hidup Ahmad perlahan berubah.

Ia mulai mengenal dunia organisasi dan UKM kampus, sesuatu yang sebelumnya terasa asing baginya. Dengan rasa penasaran, Ahmad mulai mencoba mengikuti berbagai kegiatan kampus dan perlahan belajar membuka diri.

Perjalanan itu ternyata kembali menguji dirinya tatkala ketika Ahmad masuk Pesantren Mahasiswa binaan LAZNAS Al Irsyad Purwokerto. Aturan yang ketat sempat membuatnya merasa tidak betah. Keinginan untuk pulang kembali muncul. Ia lelah menghadapi proses yang terasa berat dan penuh tekanan.

Namun, justru di tempat itulah Ahmad menemukan dirinya yang baru.

Ia belajar tentang tanggung jawab, disiplin, dan keberanian berbicara di depan banyak orang. Ahmad yang dulu gemetar bahkan saat adzan, perlahan mulai berani tampil di depan umum. Rasa takut yang dulu membelenggu dirinya sedikit demi sedikit mulai hilang.

Kepercayaan demi kepercayaan kemudian datang menghampirinya. Ahmad dipercaya menjadi moderator hingga penanggung jawab Festival Anak Sholeh. Amanah yang dulu tidak pernah ia bayangkan kini mampu ia jalani dengan penuh keyakinan.

Di balik perubahan itu, ada perjuangan panjang yang jarang diketahui banyak orang. Ada rasa takut yang sering ia sembunyikan sendiri. Ada gugup yang berkali-kali membuatnya ingin mundur. Bahkan ada air mata yang diam-diam jatuh saat ia merasa lelah menghadapi semuanya.

Namun, Ahmad memilih bertahan.

Kini, mahasiswa asal Lombok itu tumbuh menjadi pribadi yang jauh lebih kuat. Ia aktif dalam organisasi, kepanitiaan, hingga berbagai turnamen futsal. Keraguan yang dulu mengikat langkahnya kini berubah menjadi keberanian untuk melangkah lebih jauh.

Perjalanan Ahmad menjadi bukti bahwa keberanian tidak selalu lahir dari seseorang yang hebat. Kadang, keberanian tumbuh dari seseorang yang memilih tetap berjalan meski berkali-kali ingin menyerah.

Bagi Ahmad, proses panjang itu mengajarkan satu hal penting dalam hidup: jangan takut mencoba. “Tanpa mencoba, kita tidak akan pernah tahu seberapa besar kemampuan yang kita miliki.”

Scroll to Top