Tak semua orang menyadari bahwa di balik kemeriahan Hari Raya Iduladha, masih ada saudara-saudara kita yang menanti datangnya hewan kurban dengan penuh harap. Ketika banyak masjid dan musala di berbagai daerah sibuk mengatur penyembelihan sapi dan kambing, warga Desa Kanding, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas, justru menghadapi kenyataan yang berbeda.
Menjelang Iduladha 1447 Hijriah, masyarakat Desa Kanding nyaris tidak memiliki hewan kurban untuk disembelih. Keterbatasan ekonomi dan minimnya bantuan kurban yang masuk ke wilayah tersebut membuat harapan warga semakin menipis. Mereka menyadari bahwa Hari Raya Kurban akan tetap datang, takbir akan tetap berkumandang, tetapi belum tentu ada hewan kurban yang bisa mereka sembelih dan nikmati bersama.
Bagi sebagian masyarakat perkotaan, daging kurban mungkin menjadi hal yang biasa setiap tahun. Namun bagi warga Desa Kanding, menikmati daging kurban adalah sebuah kebahagiaan yang tidak selalu hadir setiap Iduladha.
Dalam beberapa kesempatan, masyarakat hanya mampu memotong seekor anak kambing untuk sekadar menghidupkan suasana hari raya. Bukan sebagai hewan kurban sebagaimana mestinya, melainkan sebagai bentuk kebersamaan agar warga tetap dapat berkumpul dan menikmati hidangan bersama. Mereka menerima keadaan itu dengan lapang dada, meski di dalam hati tersimpan keinginan untuk merasakan kembali suasana kurban yang sesungguhnya.
Meski hidup dalam keterbatasan, warga Desa Kanding tidak pernah kehilangan rasa syukur. Mereka tetap memenuhi masjid untuk melaksanakan salat Iduladha, tetap menggemakan takbir, dan tetap menjaga semangat persaudaraan. Di tengah segala keterbatasan itu, mereka terus berharap Allah menghadirkan jalan terbaik.
Harapan tersebut akhirnya menemukan jawabannya.
Melalui amanah para muhsinin, LAZNAS Al Irsyad Purwokerto menyalurkan satu ekor sapi kurban ke Desa Kanding pada Hari Raya Iduladha 1447 H. Bagi banyak orang, satu ekor sapi mungkin terlihat sederhana. Namun bagi masyarakat Desa Kanding, kehadiran sapi itu terasa seperti datangnya sebuah kabar gembira yang telah lama mereka nantikan.
Saat sapi kurban tiba di desa, kabar tersebut segera menyebar dari rumah ke rumah. Warga berdatangan dengan wajah penuh antusias. Anak-anak mengerumuni lokasi penyembelihan sambil tersenyum dan bercanda. Para tokoh masyarakat, pemuda, dan panitia kurban bahu-membahu menyiapkan seluruh kebutuhan pelaksanaan kurban.
Suasana yang semula biasa berubah menjadi penuh semangat dan haru.

Pagi itu, setelah salat Iduladha, takbir berkumandang lebih syahdu. Bukan hanya karena umat Islam sedang merayakan hari besar, tetapi karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, warga kembali memiliki hewan kurban yang dapat mereka sembelih bersama.
Ketika proses penyembelihan berlangsung, banyak warga menyaksikannya dengan rasa syukur yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Mereka memahami bahwa hewan kurban yang ada di hadapan mereka merupakan amanah dari orang-orang yang bahkan mungkin tidak pernah mereka temui, tetapi memiliki kepedulian yang begitu besar terhadap sesama muslim.
Dari Tangan Muhsinin, Kebahagiaan Mengalir hingga Pelosok Banyumas
Daging kurban kemudian dibagikan kepada masyarakat secara merata. Setiap keluarga menerima bagian yang dapat mereka olah dan nikmati bersama orang-orang tercinta.
Di balik setiap kantong daging yang dibagikan, tersimpan cerita kebahagiaan yang mendalam. Ada keluarga yang tahun ini akhirnya bisa memasak hidangan daging untuk anak-anak mereka. Ada para lansia yang tersenyum bahagia karena kembali merasakan nikmatnya daging kurban. Ada pula anak-anak yang sejak pagi menunggu dengan penuh rasa penasaran, lalu pulang membawa cerita gembira kepada keluarga mereka.

Yang hadir di Desa Kanding adalah rasa diperhatikan. Rasa bahwa mereka tidak sendirian. Rasa bahwa masih ada saudara-saudara seiman yang peduli dan ingin berbagi kebahagiaan dengan mereka.
Melalui program kurban LAZNAS Al Irsyad Purwokerto, amanah para muhsinin mampu menjangkau wilayah yang selama ini jarang tersentuh distribusi hewan kurban. Program ini membuktikan bahwa ibadah kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi juga tentang menghadirkan senyum, menguatkan ukhuwah, dan menyebarkan kebahagiaan hingga ke pelosok negeri.
Warga Desa Kanding menyampaikan doa terbaik untuk seluruh muhsinin yang telah mempercayakan kurbannya melalui LAZNAS Al Irsyad Purwokerto. Mereka berharap Allah SWT menerima amal ibadah para pekurban, melipatgandakan rezeki mereka, serta menjadikan setiap tetes kebaikan sebagai pemberat timbangan amal di akhirat kelak.
Iduladha 1447 H akan selalu dikenang oleh masyarakat Desa Kanding. Tahun ini, mereka tidak hanya mendengar gema takbir. Mereka juga merasakan hangatnya kepedulian. Mereka tidak hanya merayakan hari raya, tetapi juga menikmati kebahagiaan yang selama ini mereka rindukan.
Satu ekor sapi memang tidak mengubah seluruh keadaan desa dalam sekejap. Namun satu ekor sapi itu telah menghadirkan senyum di banyak wajah, menghidupkan kembali semangat berbagi, dan mengingatkan bahwa ketika kebaikan bergerak, kebahagiaan dapat sampai ke tempat yang paling jauh sekalipun.


