LAZNAS Al-Irsyad Purwokerto

Kenapa Harus Spanyol? Ternyata Ini Alasannya…

Oleh : Chairun Nissa Rodja 

Di balik sorak-sorai kemenangan dan gemerlap trofi kejuaraan, ada kisah lain yang tak kalah penting untuk disimak kisah tentang kepedulian, keberanian, dan kemanusiaan yang melampaui batas negara maupun agama. Inilah alasan mengapa banyak mata tertuju kepada Spanyol. Bukan hanya karena prestasinya di lapangan hijau, melainkan juga karena hadirnya suara-suara yang terus mengingatkan dunia bahwa penderitaan rakyat Palestina tidak boleh dilupakan.

Olahraga memang kerap menjadi bahasa universal yang menyatukan umat manusia. Ketika jutaan pasang mata menyaksikan sebuah pertandingan, perhatian mereka tidak sekadar tertuju pada skor akhir. Pembaca dan penonton juga melihat bagaimana para atlet menggunakan popularitas mereka untuk menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan. Dari lapangan itulah, pesan tentang kepedulian dapat menjangkau lebih banyak hati.

Salah satu sosok yang menjadi perhatian adalah Lamine Yamal, pemain muda berbakat dari tim nasional Spanyol. Di usianya yang masih sangat muda, ia tidak hanya dikenal karena keterampilannya yang luar biasa di lapangan, tetapi juga keberaniannya menunjukkan solidaritas kepada Palestina. Momen saat ia mengibarkan bendera Palestina dalam perayaan kemenangannya menjadi pengingat bahwa popularitas bukan hanya sarana mengejar pujian, melainkan juga panggung untuk menyuarakan harapan bagi mereka yang tengah tertindas.

Ketika Solidaritas Menjadi Inspirasi Dunia

Dukungan terhadap Palestina terus mengalir dari berbagai penjuru dunia—mulai dari masyarakat umum, tokoh agama, relawan kemanusiaan, hingga para atlet internasional. Mereka berasal dari latar belakang yang beragam, tetapi disatukan oleh satu nilai yang sama: kemanusiaan.

Lamine Yamal menjadi simbol bahwa kepedulian tidak mengenal batasan usia. Di tengah sorotan media global, ia memilih untuk menunjukkan bahwa doa dan rasa cinta untuk Palestina selalu memiliki tempat. Sikap penuh makna seperti ini mampu menggerakkan banyak orang untuk kembali memperdulikan mereka yang kehilangan rumah, keluarga, dan masa depan.

Solidaritas ini turut mengajarkan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berbuat kebaikan. Tidak semua orang bisa hadir langsung di lokasi konflik atau bencana, tetapi siapa saja dapat mengulurkan tangan melalui doa, menyebarkan informasi yang benar, hingga menyalurkan donasi kemanusiaan.

Di sinilah makna kemenangan menjadi jauh lebih luas. Kemenangan sejati bukan sekadar mengangkat trofi, melainkan juga menghadirkan harapan bagi mereka yang hampir kehilangan segalanya. Ketika seorang figur publik menggunakan pengaruhnya untuk membela kemanusiaan, ia sedang mengajak jutaan orang agar tidak berpaling dari penderitaan sesama.

Dari Gaza untuk Spanyol, dari Spanyol untuk Gaza

Ungkapan “Dari Gaza untuk Spanyol, dari Spanyol untuk Gaza” bukan sekadar rangkaian kata yang indah. Kalimat tersebut menggambarkan bagaimana empati mampu menembus batas geografis, budaya, dan bahasa. Jarak ribuan kilometer tidak pernah menjadi penghalang bagi hati yang peduli.

Saat ini, rakyat Gaza masih harus berjuang di tengah berbagai keterbatasan. Banyak keluarga kehilangan tempat tinggal, akses air bersih, pasokan makanan, hingga fasilitas kesehatan yang layak. Di tengah ujian tersebut, dukungan dari masyarakat dunia hadir sebagai secercah harapan bahwa mereka tidak berjuang sendirian.

Sebagai umat Islam, mempedulikan saudara yang tertimpa musibah merupakan bagian dari ajaran agama yang mulia. Rasulullah ﷺ mengibaratkan kaum mukmin bagaikan satu tubuh: apabila satu anggota tubuh merasakan sakit, bagian tubuh lainnya turut merasakannya. Nilai inilah yang mendasari kita untuk tidak hanya bersimpati, tetapi juga mengambil langkah nyata sesuai kemampuan.

Melalui doa, kita menguatkan jiwa mereka. Melalui sedekah, kita meringankan beban kebutuhan yang mendesak. Serta melalui kepedulian, kita menjaga agar nyala kemanusiaan tidak pernah padam.

Aksi yang ditunjukkan Lamine Yamal mengingatkan kita kembali bahwa siapa saja bisa menjadi pembawa pesan kebaikan. Tidak perlu menunggu menjadi atlet dunia atau tokoh besar untuk menunjukkan kepedulian. Kita semua memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi bagian dari rantai kebaikan, sekecil apapun langkah yang kita ambil.

Sebab pada akhirnya, yang akan selalu dikenang bukan hanya siapa yang meraih piala di atas lapangan, melainkan siapa yang memilih berdiri dan mengulurkan tangan bagi mereka yang membutuhkan. Ketika solidaritas bertumbuh, harapan akan kembali hidup. Dan ketika harapan terus dijaga, kemanusiaan akan selalu menemukan jalannya untuk menang.

Scroll to Top