LAZNAS Al-Irsyad Purwokerto

Menembus Jarak dan Keterbatasan:Perjalanan Dede Sulaiman Mengejar Masa Depan

Pagi di Muara Sugihan selalu mulai dengan langkah para petani menuju sawah. Lanskap agraris yang bersahaja ini menjadi saksi awal bagaimana Dede Sulaiman tumbuh bersama mimpi-mimpi besar yang sederhana. Keluarga dan sahabat memanggilnya Leman.

Ia lahir dari keluarga petani di Kabupaten Banyuasin, Palembang. Ayahnya bekerja di sawah. Ibunya mengurus rumah dan keluarga. Hidup mereka jauh dari kemewahan, tetapi penuh ketulusan dan kerja keras.

Sebagai anak laki-laki satu-satunya, Leman tumbuh dengan rasa tanggung jawab yang besar. Ia melihat sendiri bagaimana kedua orang tuanya berjuang memenuhi kebutuhan keluarga. Dari rumah sederhana itulah muncul tekad kuat untuk mengubah nasib lewat pendidikan.

Keyakinan itulah yang kemudian menuntun langkah pemuda ini saat beranjak dewasa. Tidak seperti kakak-kakaknya yang memilih tetap dekat kampung halaman, Leman mengambil keputusan besar. Ia merantau keluar Sumatera menuju Jawa demi melanjutkan kuliah.

Tahun 2023 menjadi titik penting dalam hidupnya. Ia diterima di Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Purwokerto. Di tengah keterbatasan ekonomi keluarga, kesempatan itu terasa begitu berharga.

Perjuangan Leman akhirnya membuka jalan yang lebih besar. Ia berhasil menjadi penerima Beasiswa Cendekia, program kolaborasi antara Universitas Amikom Purwokerto dan LAZNAS Al Irsyad Purwokerto. Beasiswa tersebut menjadi jawaban atas kegelisahan seorang anak rantau yang ingin tetap bertahan kuliah tanpa membebani orang tua di kampung.

Bagi Leman, bantuan itu bukan sekadar dukungan pendidikan. Beasiswa tersebut menjadi bukti bahwa kerja keras dan keberanian untuk bermimpi masih menemukan jalannya.

Kamera Sederhana dan Harapan Besar

Di dunia kreatif kampus, Leman dikenal sebagai mahasiswa yang tekun belajar. Ia aktif di organisasi Intermedia sebagai content creator. Di sana, ia mengasah kemampuan fotografi, desain, dan video editing.

Namun, perjalanan itu tidak berjalan mudah.

Saat bergabung dengan komunitas Fotografer Banyumas, Leman hanya memiliki sebuah telepon genggam Vivo Y17s. Ia sempat merasa ragu setelah melihat anggota lain memakai kamera profesional. Dalam diam, ia pernah bertanya pada dirinya sendiri apakah dirinya pantas berada di tengah mereka.

Tetapi, keraguan itu perlahan runtuh. Komunitas tersebut justru menerima dirinya dengan hangat. Dari sana, ia belajar bahwa kualitas karya tidak selalu ditentukan alat mahal, melainkan keberanian melihat makna dari sebuah gambar.

Pelajaran itu terbukti pada 2024. Dengan telepon genggam sederhana, Leman mengikuti lomba fotografi di Universitas Amikom Purwokerto. Banyak orang meragukan kemampuannya. Namun, hasil akhirnya membuat banyak pihak terkejut. Foto karya Leman berhasil meraih juara pertama.

Prestasi itu menjadi titik balik penting dalam hidupnya. Ia mulai percaya bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti melangkah.

Di balik karya-karyanya, ada perjuangan panjang yang jarang terlihat. Leman harus mengedit video dan desain menggunakan laptop sederhana. Program editing sering menghambat. Rendering video berjalan sangat lambat. Meski begitu, ia tetap bertahan dan terus belajar.

Hingga akhirnya, dari hasil menabung sedikit demi sedikit, Leman mampu membeli kamera mirrorless Sony a6000 beserta lensa impiannya. Kamera itu menjadi simbol perjalanan panjang seorang anak petani yang berani menyeberangi lautan demi masa depan.

Kini, di semester enam, Leman terus menjaga mimpinya tetap hidup. Ia ingin membuktikan bahwa anak desa pun mampu tumbuh, berkarya, dan berdiri sejajar lewat pendidikan serta kerja keras. Di setiap karya visual yang ia hasilkan, ada satu tujuan yang selalu ia bawa: membanggakan kedua orang tuanya dan mengangkat derajat keluarga melalui jalan kreativitas dan ilmu pengetahuan.

Baca juga : Menjaga Amanah,Penerima Beasiswa hingga Wakil Presiden BEM

Scroll to Top