LAZNAS Al-Irsyad Purwokerto

Menjaga Amanah dari Beasiswa hingga Kursi Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa

Nama Fathimah Putri Amanah diberikan sang ayah dengan penuh harapan dan doa. Kata “Amanah” tidak hanya menjadi identitas bagi dirinya, tetapi juga pengingat agar ia tumbuh sebagai pribadi yang dapat dipercaya dan bertanggung jawab. Seiring waktu, Fathimah merasa nama tersebut menjadi cerminan perjalanan hidup yang terus membentuk dirinya hingga hari ini.

Perjalanan Fathimah tidak selalu berjalan mulus. Ia pernah berada pada fase kehilangan arah dan belum memiliki tujuan yang jelas untuk masa depannya. Keinginan melanjutkan pendidikan tinggi pun sempat terasa begitu jauh dari bayangannya.

Kesempatan besar datang ketika ia memperoleh Beasiswa Cendekia hasil kolaborasi LAZNAS Al Irsyad Purwokerto dan Universitas Amikom Purwokerto. Kesempatan itu menjadi titik balik yang mengubah cara pandangnya terhadap pendidikan dan kehidupan. Ia memilih menerima beasiswa tersebut karena tidak ingin menyia-nyiakan peluang yang datang kepadanya.

“Saya tidak ingin menyia-nyiakan peluang,” ujarnya. Kalimat itu menjadi pegangan bagi Fathimah selama menjalani kehidupan sebagai mahasiswa. Ia mulai membangun semangat baru untuk menjalani pendidikan dengan lebih serius dan penuh tanggung jawab.

Tahun 2023 menjadi masa adaptasi yang cukup berat bagi dirinya. Ia harus menyesuaikan diri dengan lingkungan kampus, memahami ritme perkuliahan, dan membangun relasi dengan teman-teman baru. Situasi itu sempat membuatnya merasa bingung dan tidak percaya diri.

Meski demikian, Fathimah tidak ingin larut dalam kebingungan yang ia rasakan. Ia memilih fokus pada akademik dan berusaha menjalani kuliah dengan sungguh-sungguh setiap harinya. Perlahan, usaha tersebut mulai menunjukkan hasil yang membanggakan.

Pada semester pertama dan kedua, Fathimah berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif atau IPK sempurna. Pencapaian itu menjadi bukti bahwa ia mampu menjaga amanah pendidikan yang telah diberikan kepadanya. Keberhasilan tersebut juga membuatnya semakin percaya diri untuk berkembang di lingkungan kampus.

Dari Penerima Beasiswa Menjadi Penggerak Organisasi

Prestasi akademik ternyata tidak membuat Fathimah cepat merasa puas. Memasuki semester ketiga, ia mulai mencoba keluar dari zona nyaman dengan mengikuti berbagai kegiatan kampus. Ia ingin belajar lebih banyak tentang kehidupan organisasi dan kepemimpinan mahasiswa.

Pada September 2024, Fathimah bergabung dalam kepanitiaan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru di kampusnya. Pengalaman itu menjadi langkah awal dirinya mengenal dunia organisasi dan kerja sama tim. Dari kegiatan tersebut, ia belajar tentang komunikasi, tanggung jawab, dan dinamika kepemimpinan mahasiswa.

Sebulan kemudian, ia dipercaya mengampu bidang media dalam organisasi kampus. Tanggung jawab itu membuatnya belajar mengenai pengelolaan informasi dan penyampaian pesan kepada publik. Meski belum menguasai keterampilan teknis seperti desain grafis dan editing video, ia tetap berusaha berkembang.

Fathimah menyadari bahwa proses belajar tidak pernah benar-benar selesai. Ia memahami bahwa setiap tantangan akan membentuk kemampuan baru dalam dirinya. Kesadaran itu membuatnya terus berusaha memperbaiki diri dari waktu ke waktu.

Perjalanan organisasinya semakin serius ketika Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa menawarkan posisi Menteri Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa pada Januari 2025. Tawaran itu sempat membuatnya merasa ragu karena minatnya lebih dekat dengan isu-isu perempuan. Namun, ia tetap menerima amanah tersebut sebagai bagian dari proses belajar yang harus dijalani.

Sebagai Menteri Advokesma, Fathimah mulai berhadapan dengan berbagai persoalan mahasiswa. Ia mendengar banyak keluhan, menyampaikan aspirasi, dan mencoba memperjuangkan isu yang sering kali terabaikan. Dari pengalaman itu, ia memahami bahwa advokasi membutuhkan empati dan tanggung jawab yang besar.

“Keberanian harus diiringi keberpihakan kepada kepentingan bersama,” katanya. Prinsip tersebut menjadi pegangan bagi dirinya ketika menghadapi berbagai persoalan organisasi. Ia percaya bahwa seorang pemimpin harus mampu mendengar dan memperjuangkan suara banyak orang.

Dalam prosesnya, Fathimah tidak jarang menghadapi tekanan dan kritik dari berbagai pihak. Bahkan, ia pernah diremehkan ketika menyampaikan pendapat dalam forum organisasi. Meski begitu, pengalaman tersebut justru membentuk mentalnya menjadi lebih kuat dan matang.

Belajar Kepemimpinan dan Menjaga Suara Mahasiswa

Organisasi mempertemukan Fathimah dengan banyak ruang belajar baru. Ia mulai aktif membangun jejaring dan memantik diskusi mengenai isu sosial di lingkungan mahasiswa. Ia juga berusaha mengajak mahasiswa lain agar tidak bersikap apatis terhadap persoalan sekitar.

Kesempatan lain datang ketika ia bergabung dengan Forum Perempuan Badan Eksekutif Mahasiswa seluruh Indonesia.. Forum tersebut menjadi ruang penting bagi perempuan mahasiswa dari berbagai daerah untuk berkembang dan bertukar gagasan. Melalui forum itu, Fathimah belajar tentang solidaritas dan keberanian perempuan dalam gerakan sosial.

Pada September 2025, ia mengikuti Rapat Kerja Nasional Forum Perempuan Badan Eksekutif Mahasiswa seluruh Indonesia di Lampung. Kegiatan itu mempertemukannya dengan banyak perempuan hebat dan para Presiden Mahasiswa dari berbagai kampus di Indonesia. Pengalaman tersebut memperluas cara pandangnya tentang kepemimpinan dan perjuangan sosial.

Perjalanan organisasinya terus berkembang hingga akhirnya ia dipercaya menjadi Wakil Presiden BEM pada Januari 2026. Jabatan itu menjadi amanah besar yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Sebagai Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa, ia harus menjaga koordinasi internal dan memastikan program organisasi berjalan dengan baik.

Meski telah berada pada posisi penting di organisasi kampus, Fathimah tetap merasa dirinya belum sempurna. Ia mengaku masih perlu memperbaiki keterampilan teknis dan mengendalikan emosi ketika menghadapi konflik. Kesadaran itu justru menjadi motivasi baginya untuk terus berkembang menjadi pribadi yang lebih matang.

Fathimah juga memahami bahwa dunia organisasi memiliki persaingan yang cukup ketat. Akan selalu ada individu lain yang memiliki kemampuan lebih baik dalam berbagai bidang. Karena itu, ia memilih terus belajar agar tetap relevan dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi banyak orang.

Di balik semua pencapaian tersebut, Fathimah tidak berjalan sendirian. Ia banyak belajar dari orang-orang yang hadir dalam proses hidupnya, baik dalam suka maupun duka. Dukungan, tekanan, air mata, dan tawa menjadi bagian penting yang membentuk dirinya hingga hari ini.

Kini, sebagai penerima Beasiswa Cendekia kolaborasi LAZNAS Al Irsyad Purwokerto dan Universitas Amikom Purwokerto, Fathimah ingin terus menjaga kepercayaan yang telah diberikan kepadanya. Ia percaya bahwa amanah bukan hanya tentang jabatan, tetapi juga tentang bagaimana seseorang memberi manfaat bagi orang lain. Perjalanan hidupnya masih panjang, namun ia terus belajar menjaga tanggung jawab dan menyuarakan hal-hal yang perlu diperjuangkan.

Scroll to Top