LAZNAS Al-Irsyad Purwokerto

Menuntut Ilmu Jauh dari Rumah, LAZNAS Al Irsyad Purwokerto Antar Dua Santri Pulang ke Kampung Halaman

Purwokerto– Tim LAZNAS Al Irsyad Purwokerto mengantar dua santri Pondok Pesantren Tahfidz dan Dhuafa Mafaza Tanggeran, Somagede, Banyumas, menuju Stasiun Purwokerto pada Jumat, 19 Juni 2026, untuk kembali ke kampung halaman mereka di Ciamis, Jawa Barat. Kepulangan tersebut dilakukan seiring dimulainya libur panjang sekolah setelah keduanya menjalani pendidikan dan pembinaan di pesantren selama kurang lebih dua tahun.

Dua santri tersebut adalah Farhan dan Irsyad, yang saat ini duduk di kelas 2 SMP Muhammadiyah Somagede. Meski baru berusia 13 tahun, keduanya telah menunjukkan semangat luar biasa dalam menuntut ilmu dengan tinggal jauh dari keluarga demi memperdalam ilmu agama dan menghafal Al-Qur’an di lingkungan pesantren.

Sejak pagi, Farhan dan Irsyad tampak antusias mempersiapkan perjalanan pulang. Libur panjang kali ini menjadi momen yang sangat dinantikan karena mereka dapat kembali berkumpul dengan keluarga setelah menjalani aktivitas belajar dan pembinaan di pesantren. Rasa rindu kepada orang tua menjadi kebahagiaan tersendiri yang menyertai perjalanan mereka menuju kampung halaman.

Keberangkatan kedua santri tersebut didampingi langsung oleh Tim LAZNAS Al Irsyad Purwokerto. Pendampingan ini dilakukan karena Pondok Pesantren Tahfidz dan Dhuafa Mafaza merupakan salah satu pondok pesantren binaan LAZNAS Al Irsyad Purwokerto. Sebagai lembaga yang turut mendukung pendidikan para santri, LAZNAS Al Irsyad Purwokerto berkomitmen memberikan perhatian dan pendampingan agar kebutuhan para santri dapat terpenuhi dengan baik, termasuk saat perjalanan pulang ke daerah asal.

Menjadi Penghafal Al-Qur’an di Usia Muda

Farhan dan Irsyad merupakan bagian dari santri binaan yang mendapatkan kesempatan belajar di Pondok Pesantren Tahfidz dan Dhuafa Mafaza. Selama dua tahun terakhir, mereka menjalani pendidikan formal di SMP Muhammadiyah Somagede sekaligus mengikuti program tahfidz Al-Qur’an dan pembinaan karakter di lingkungan pesantren.

Rutinitas yang mereka jalani setiap hari tidak hanya diisi dengan kegiatan belajar di sekolah, tetapi juga menghafal Al-Qur’an, mengikuti kajian keislaman, serta menjalankan berbagai aktivitas yang membentuk kedisiplinan dan kemandirian. Pola pendidikan tersebut menjadi bekal penting bagi mereka untuk tumbuh sebagai generasi yang berilmu, berakhlak, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.

Menjalani kehidupan sebagai santri jauh dari rumah tentu bukan perkara mudah. Di usia yang masih sangat muda, mereka harus belajar mengatur waktu, menyelesaikan berbagai tanggung jawab, dan menahan kerinduan kepada keluarga. Namun, tantangan tersebut justru menjadi bagian dari proses pembentukan karakter yang akan bermanfaat sepanjang hidup mereka.

Semangat yang ditunjukkan Farhan dan Irsyad menjadi bukti bahwa keterbatasan kondisi ekonomi maupun jarak tidak menghalangi seseorang untuk meraih pendidikan yang lebih baik. Dengan tekad yang kuat, keduanya terus berusaha menimba ilmu demi mewujudkan cita-cita dan membahagiakan orang tua.

Komitmen Membina Generasi Qurani

Pendampingan yang dilakukan LAZNAS Al Irsyad Purwokerto dalam kepulangan kedua santri mencerminkan komitmen lembaga dalam mendukung pendidikan generasi muda, khususnya para santri yang menempuh pendidikan di pondok pesantren binaan. Dukungan tersebut tidak hanya diwujudkan melalui program pendidikan, tetapi juga melalui perhatian terhadap kebutuhan dan kenyamanan para santri selama menjalani proses belajar.

Pondok Pesantren Tahfidz dan Dhuafa Mafaza sendiri menjadi salah satu sarana pembinaan bagi anak-anak yang memiliki semangat belajar tinggi untuk mendapatkan pendidikan agama dan pendidikan formal secara seimbang. Melalui program tersebut, para santri didorong untuk menjadi generasi Qurani yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

Perjalanan Farhan dan Irsyad menuju Ciamis mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun, perjalanan mereka dalam menuntut ilmu telah berlangsung selama dua tahun dengan penuh kesungguhan. Kisah keduanya menjadi pengingat bahwa kesuksesan tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari keberanian untuk berjuang, belajar, dan terus melangkah meski harus jauh dari rumah. Semangat itulah yang menjadikan mereka layak menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya dalam meraih masa depan yang lebih baik melalui pendidikan dan Al-Qur’an.

Scroll to Top