Dalam kehidupan, tidak semua orang menikmati masa tua dengan kondisi yang berkecukupan. Sebagian harus menjalani hari-hari dengan penuh perjuangan, bahkan ketika tenaga yang dimiliki sudah tidak lagi sekuat dahulu. Kisah Bu Naisem menjadi salah satu potret nyata tentang keteguhan hati seorang dhuafa yang tetap berusaha menjalani kehidupan dengan sabar di tengah berbagai keterbatasan.
Bu Naisem merupakan salah satu penerima manfaat santunan dhuafa berupa paket sembako, hasil kolaborasi Seksi Sosial PC Wanita Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto bersama LAZNAS Al Irsyad Purwokerto. Di balik bantuan yang diterimanya, tersimpan kisah perjuangan yang mengajarkan banyak hal tentang kesabaran, ketabahan, dan pentingnya kepedulian sosial dalam Islam.
Selama bertahun-tahun, Bu Naisem bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART). Dari pekerjaan sederhana itulah beliau memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dengan penuh tanggung jawab dan kerja keras, ia menjalani profesinya demi menyambung hidup. Namun, waktu terus berjalan. Usia yang semakin bertambah membuat stamina fisiknya menurun. Tenaga yang dahulu kuat perlahan melemah, sehingga ia tidak lagi mampu menjalankan pekerjaannya seperti biasa.
Akhirnya, Bu Naisem memutuskan untuk berhenti bekerja. Keputusan tersebut tentu bukanlah pilihan yang mudah. Ketika seseorang kehilangan sumber penghasilan, pemenuhan kebutuhan pokok pun menjadi tantangan berat yang harus dihadapi setiap hari. Sejak saat itu, Bu Naisem tidak lagi memiliki pendapatan tetap.
Ia tinggal seorang diri tanpa keluarga yang mendampingi. Dalam kesunyian rumah yang sederhana, Bu Naisem menjalani hari-harinya dengan mengandalkan uluran tangan dari masyarakat sekitar. Tetangga dan warga yang peduli sering kali mengirimkan makanan serta memberikan perhatian kepadanya. Kepedulian tersebut menjadi bukti bahwa nilai gotong royong dan kasih sayang masih hidup subur di tengah masyarakat.
Allah SWT berfirman:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa…” (QS. Al-Maidah: 2)
Ayat ini mengingatkan bahwa membantu sesama bukan sekadar tindakan sosial, melainkan juga wujud ketaatan kepada Allah SWT. Setiap kebaikan yang diberikan kepada mereka yang membutuhkan dapat menjadi jalan datangnya keberkahan dan pahala yang besar.
Ujian yang Datang Bertubi-tubi
Meski hidup dalam keterbatasan, Bu Naisem berusaha menjalani takdirnya dengan penuh keikhlasan. Namun, ujian kembali menghampiri. Beberapa waktu lalu, beliau mengalami kecelakaan di rumahnya sendiri; Bu Naisem terpeleset dan terjatuh hingga menyebabkan cedera serius pada kakinya.

Kejadian tersebut membuat kondisi fisiknya semakin menurun. Jika sebelumnya ia masih mampu beraktivitas secara mandiri meskipun terbatas, kini berjalan pun menjadi sesuatu yang sulit dilakukan. Rasa sakit yang mendera membuat setiap jengkal langkah terasa amat berat. Untuk berpindah tempat di dalam rumah, Bu Naisem harus berjuang menahan nyeri yang teramat sangat.
Situasi ini tentu semakin memprihatinkan karena tidak ada satu pun anggota keluarga yang tinggal bersamanya. Ketika sakit mendera, tidak ada tempat bersandar untuk membantu aktivitas sehari-hari. Potret ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa masih banyak saudara di sekitar kita yang sangat membutuhkan perhatian dan uluran tangan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa penderitaan yang dialami seorang muslim seharusnyalah mengetuk hati muslim lainnya untuk ikut peduli dan mengulurkan bantuan sesuai kemampuan. Ketika ada saudara yang sedang kesulitan, di situlah kesempatan kita untuk hadir menjadi bagian dari solusi.
Zakat, Infak, dan Sedekah Menjadi Jalan Kebaikan
Sebagai bentuk kepedulian terhadap Bu Naisem, sebelumnya Tim LAZNAS Al Irsyad Purwokerto telah mendatangi kediamannya untuk meninjau langsung keadaan beliau. Kunjungan tersebut merupakan wujud nyata perhatian kepada masyarakat dhuafa yang membutuhkan dukungan serta pendampingan.
Dalam kesempatan awal itu, tim memberikan santunan guna meringankan beban yang harus ditanggung Bu Naisem. Selanjutnya, melalui sinergi berkelanjutan Seksi Sosial PC Wanita Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto bersama LAZNAS Al Irsyad Purwokerto, Bu Naisem kembali menerima paket sembako sebagai salah satu penerima manfaat program santunan dhuafa.
Paket sembako mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang, tetapi bagi mereka yang sedang berjuang bertahan hidup, bantuan tersebut memiliki arti yang sangat besar. Setiap paket yang tersalurkan membawa secercah harapan, mengurangi beban dapur, dan menjadi bukti nyata bahwa mereka tidak pernah dilupakan.
Inilah salah satu hikmah indah dari zakat, infak, dan sedekah. Harta yang Allah titipkan kepada kita dapat menjadi sarana untuk menghadirkan senyuman bagi orang lain. Ketika seorang dhuafa dapat menikmati makanan yang layak, ketika seorang lansia merasa diperhatikan, dan ketika kesulitan hidup mereka sedikit terangkat, maka di situlah nilai kemuliaan berbagi mewujud.
Kisah Bu Naisem mengajarkan bahwa kesabaran dan kepedulian harus berjalan beriringan. Di satu sisi, beliau memberikan teladan tentang ketabahan dalam menghadapi ujian hidup. Di sisi lain, masyarakat dan para donatur menunjukkan bahwa kepedulian dapat menjadi cahaya penuntun di tengah kegelapan kesulitan.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesembuhan, kesehatan, dan kekuatan kepada Bu Naisem. Semoga setiap bantuan yang disalurkan menjadi amal jariyah yang terus mengalirkan pahala bagi para dermawan. Dan semoga semakin banyak kaum muslimin yang tergerak untuk merangkul saudara-saudara dhuafa, sehingga keberkahan dan rahmat Allah semakin meluas di tengah ummat. Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin.


