LAZNAS Al-Irsyad Purwokerto

Sedekah sebagai Penopang Perjuangan: Meneladani Jejak Dermawan Sejarah

Oleh Ustaz Sufyan Baasyir
Dewan Pengawas Syariah LAZNAS Al Irsyad Purwokerto
Ketua Lajnah Dakwah PC Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto

Hari ini, kita hidup di era yang ditandai oleh kontras yang menyakitkan. Di satu sisi, teknologi dan globalisasi telah menciptakan kekayaan yang luar biasa serta kemudahan dalam mengakses informasi. Namun, di sisi lain, kesenjangan ekonomi semakin tinggi. Kemiskinan struktural, kesulitan akses pendidikan dan kesehatan bagi kelompok marginal, serta masalah ketidakberdayaan umat masih menjadi tantangan nyata.

Dalam hiruk-pikuk modernitas, nilai-nilai kemanusiaan dan solidaritas sering kali tereduksi, sementara semangat untuk berjuang demi kepentingan bersama semakin memudar. Untuk membangkitkan kembali semangat kolektif ini, kita perlu menengok kembali sejarah, khususnya pada potensi kekuatan sedekah sebagai fondasi setiap perjuangan.

Meneladani Dermawan Agung: Sahabat Nabi dan Para Pejuang Bangsa

Sedekah bukanlah sekadar amal, melainkan sebuah strategi perjuangan yang telah teruji sejak masa awal Islam. Dalam kancah peperangan dan penegakan agama, harta menjadi salah satu elemen penentu.

Sebagai contoh, sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq, khalifah pertama, menunjukkan puncak kedermawanan pada Perang Tabuk. Ketika Rasulullah SAW menyerukan infak, Abu Bakar datang membawa seluruh hartanya. Ketika beliau ditanya, “Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?” Abu Bakar menjawab dengan keyakinan teguh, “Saya sisakan untuk mereka, Allah dan Rasul-Nya.” Ini merupakan bukti pengorbanan total demi tegaknya panji Islam.

Contoh lain adalah sahabat Utsman bin Affan, yang dikenal kaya raya dan menjadi donatur utama dalam banyak peristiwa penting. Salah satunya, beliau membiayai sebagian besar kebutuhan Perang Tabuk dengan menyumbangkan 300 ekor unta, kuda, dan uang tunai dalam jumlah besar, sehingga menjadi pilar logistik bagi pasukan.

Kedermawanan Abdurrahman bin Auf juga tidak kalah heroik. Beliau memelopori sedekah dalam jumlah besar, bahkan di masa paceklik. Keuntungan dari perniagaannya selalu didedikasikan untuk umat, hingga beliau mewasiatkan harta yang besar untuk infak fi sabilillah menjelang wafatnya.

Jejak kedermawanan ini diteruskan oleh para pejuang pada masa kemerdekaan Indonesia, di antaranya H.O.S. Tjokroaminoto. Melalui organisasi Sarekat Dagang Islam, yang kemudian bertransformasi menjadi Sarekat Islam (SI), beliau berhasil menyatukan kekuatan para saudagar Muslim.

Sarekat Islam tidak hanya bergerak di bidang politik, tetapi juga di bidang ekonomi. Dana yang terkumpul dari para saudagar dan anggota — termasuk dari infak dan sedekah — digunakan untuk membangkitkan kesadaran umat, memperbaiki sistem perdagangan kaum bumiputra, melawan monopoli penjajah, dan membantu anggota yang kesusahan.

Para saudagar Muslim, termasuk H. Samanhudi dan tokoh-tokoh SI lainnya, sadar bahwa perjuangan fisik dan politik tidak akan berhasil tanpa penopang ekonomi. Sedekah dan semangat filantropi Islam menjadi bahan bakar utama yang membiayai operasional organisasi, pendidikan kader, serta solidaritas sosial bagi rakyat jelata yang tertindas.

Para pendahulu kita mengajarkan bahwa sedekah adalah mesin penggerak perjuangan yang melampaui kepentingan pribadi. Kini, medan juang kita mungkin berbeda — bukan lagi melawan penjajah fisik, melainkan melawan kemiskinan dan ketidakadilan sosial.

Mari jadikan sedekah sebagai langkah konkret perjuangan modern kita untuk:

Mensejahterakan rakyat miskin — Memberikan modal usaha produktif atau bantuan langsung guna memutus rantai kemiskinan.

Pendidikan anak yatim — Menyediakan beasiswa, kebutuhan sekolah, dan biaya hidup agar mereka memiliki masa depan cerah.

Rumah sakit dan kesehatan — Berkontribusi dalam pembangunan atau pembiayaan pelayanan kesehatan gratis bagi kaum dhuafa.

Wakaf produktif — Mengembangkan aset wakaf, baik berupa tanah, bangunan, maupun uang, yang hasilnya berkesinambungan untuk kemaslahatan umat.

Pemberdayaan umat — Mendanai program pelatihan keterampilan, dakwah, serta penguatan ekonomi berbasis komunitas.

Mari bersedekah! Tidak perlu menunggu kaya raya, karena sedekah bukan soal nominal, tetapi soal totalitas pengorbanan. Dengan setiap sedekah yang kita keluarkan, sejatinya kita sedang menanam benih-benih keadilan, kemandirian, dan kesejahteraan — membangun benteng pertahanan umat di masa kini, serta melanjutkan tradisi perjuangan yang telah diwariskan para pendahulu kita.

Scroll to Top