Nagekeo, NTT— Gempa bumi yang mengguncang wilayah Aloripit, Mbay, Kabupaten Nagekeo, meninggalkan kerusakan pada sejumlah bangunan, termasuk MIS Al Ikhlas Aloripit. Ruang-ruang kelas yang sebelumnya menjadi tempat anak-anak menimba ilmu kini tidak lagi layak digunakan (21/09).
Plafon di dalam kelas berjatuhan. Sejumlah bagian tembok bahkan mengalami keretakan hingga terpisah dan berpotensi membahayakan keselamatan siswa maupun guru. Di tengah kondisi tersebut, kegiatan belajar mengajar tetap harus berjalan.
Kepala MIS Al Ikhlas, Maryam Bonik, menuturkan bahwa para guru sebelumnya berupaya mempertahankan proses pembelajaran dengan segala keterbatasan. Terpal sederhana dipasang sebagai pelindung agar siswa tetap dapat belajar tanpa terpapar panas matahari.
Namun, upaya tersebut bukan tanpa kendala. Saat angin bertiup, terpal kerap beterbangan sehingga mengganggu kegiatan belajar mengajar. Kondisi ini membuat para guru dan siswa harus beradaptasi di tengah situasi yang serba terbatas.
Melihat kondisi tersebut, LAZNAS Al Irsyad bersama LAZIS Al Irsyad Cilacap dan Relawan Nusantara berkolaborasi membangun Sekolah Darurat di MIS Al Ikhlas Aloripit.
Pembangunan sekolah darurat ini dilakukan secara gotong royong bersama para wali murid. Untuk memberikan ruang bagi proses pembangunan, kegiatan pembelajaran sengaja diliburkan sementara. Waktu tersebut dimanfaatkan untuk membangun ruang belajar darurat agar kegiatan belajar mengajar dapat kembali berlangsung dengan lebih aman dan nyaman.
Para wali murid turut terlibat dalam proses pembangunan bersama para guru, relawan, dan pihak-pihak yang terlibat. Semangat gotong royong ini menjadi bagian penting dari upaya pemulihan sekolah sekaligus menunjukkan kuatnya kepedulian masyarakat terhadap keberlangsungan pendidikan anak-anak pascabencana.
Lebih dari sekadar membangun ruang kelas sementara, proses ini juga menjadi bagian dari upaya pemulihan masyarakat setelah gempa. Keterlibatan warga dalam proses pembangunan diharapkan dapat turut menggerakkan aktivitas masyarakat dan mendukung pemulihan ekonomi lokal.
Setelah pembangunan selesai, sekolah darurat ini diharapkan menjadi ruang belajar yang lebih aman dan nyaman bagi siswa dan guru. Kegiatan belajar mengajar pun dapat kembali berlangsung tanpa kekhawatiran berlebih terhadap kondisi bangunan yang sebelumnya rusak.
Sekolah darurat ini bukan sekadar bangunan sementara. Di dalamnya ada semangat gotong royong, kepedulian, dan harapan agar anak-anak Aloripit tetap mendapatkan hak mereka untuk belajar.
Di tengah situasi pascabencana, masyarakat tidak hanya membutuhkan bangunan yang kembali berdiri, tetapi juga kesempatan untuk bangkit bersama. Karena itu, pembangunan sekolah darurat ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk memulihkan ruang pendidikan sekaligus mendukung masyarakat agar dapat kembali bangkit setelah gempa.
Kolaborasi LAZNAS Al Irsyad, LAZIS Al Irsyad Cilacap, Relawan Nusantara, para guru, dan wali muridmenjadi wujud nyata bahwa pemulihan pascabencana dapat dilakukan bersama-sama.


