NTT — Satu bulan telah berlalu sejak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026. Waktu terus berjalan, tetapi bagi sebagian masyarakat terdampak, kehidupan belum sepenuhnya kembali seperti sebelum bencana (20/09).
Rumah yang dahulu menjadi tempat berlindung masih menyisakan reruntuhan. Sebagian warga memilih bertahan di tenda pengungsian karena rumah mereka rusak dan belum aman untuk ditempati. Rasa takut terhadap guncangan kembali juga membuat proses kembali ke kehidupan normal berjalan perlahan.
Gempa utama pada 15 Agustus memang telah berlalu. BMKG saat itu sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami setelah gempa dangkal M7,7 yang berpusat di laut, sebelum peringatan tersebut diakhiri beberapa jam kemudian.
Persoalan bagi masyarakat tidak berhenti ketika peringatan tsunami berakhir. Guncangan susulan masih terjadi dan membuat sebagian warga memilih tetap berada di luar rumah atau tinggal di tempat pengungsian. Kondisi tersebut menjadi bagian dari keseharian mereka dalam menghadapi masa pemulihan.
Bertahan Sambil Mencari Penghasilan
Di tengah keterbatasan, masyarakat perlahan mencoba membangun kembali kehidupannya. Sebagian warga mulai kembali berjualan di pasar untuk mendapatkan penghasilan dan memenuhi kebutuhan keluarga.
Langkah sederhana itu menjadi bentuk lain dari perjuangan setelah bencana. Ketika rumah belum kembali berdiri, kebutuhan makan dan kehidupan sehari-hari tetap harus dipenuhi. Mereka tidak hanya menunggu bantuan, tetapi juga berusaha menghidupkan kembali sumber penghasilan yang sempat terhenti.
Bagi sebagian keluarga, kembali bekerja bukan berarti keadaan sudah pulih. Aktivitas ekonomi berjalan bersamaan dengan kebutuhan memperbaiki rumah, memenuhi kebutuhan keluarga, serta menghadapi ketidakpastian akibat kondisi pascagempa.
Para nelayan juga menghadapi situasi yang tidak mudah. Laut yang selama ini menjadi sumber penghidupan harus kembali mereka dekati dengan kehati-hatian karena pengalaman gempa dan peringatan tsunami masih membekas.
Ketakutan itu menjadi salah satu alasan mengapa pemulihan tidak dapat hanya dilihat dari apakah masyarakat sudah kembali bekerja. Di balik aktivitas yang mulai bergerak, masih ada rasa waspada yang menyertai setiap langkah.
Anak-Anak Kembali Belajar di Tengah Keterbatasan
Di tengah kondisi tersebut, anak-anak juga mulai kembali belajar. Sebagian kegiatan pendidikan dilakukan di ruang-ruang darurat, termasuk tenda dan tempat sederhana yang disiapkan agar proses belajar tidak sepenuhnya terhenti.
Pemerintah Provinsi NTT mencatat gempa berdampak pada 1.378 satuan pendidikan di tujuh kabupaten. Sebanyak 5.521 ruang kelas mengalami kerusakan dan 502 satuan pendidikan mengalami kerusakan berat.
Kondisi itu membuat kegiatan belajar harus beradaptasi dengan keadaan. Pada masa awal pascagempa, Kemendikdasmen mencatat pembelajaran dilakukan dari rumah, tempat pengungsian, kelas darurat, hingga secara daring karena gempa susulan masih berlangsung.
Meski ruang belajar berubah, semangat anak-anak untuk menimba ilmu tidak ikut runtuh. Mereka kembali membuka buku, duduk bersama teman-temannya, dan mengikuti pelajaran meski suasana belum sepenuhnya aman dan nyaman.
Bahkan ketika guncangan kembali dirasakan, proses pendidikan tetap menjadi bagian penting dari kehidupan mereka. Sekolah bukan sekadar tempat untuk belajar, tetapi juga ruang untuk perlahan mengembalikan rutinitas setelah bencana.
NTT Belum Benar-Benar Pulih
Satu bulan setelah gempa, tanda-tanda kehidupan memang mulai tumbuh. Pasar kembali didatangi pedagang, masyarakat mulai mencari penghasilan, anak-anak kembali belajar, dan berbagai upaya pemulihan terus dilakukan.
Tetapi pulih bukan sekadar kembali beraktivitas. Pulih juga berarti memiliki tempat tinggal yang aman, merasa kembali tenang ketika berada di rumah, memiliki penghasilan yang cukup, serta mampu menjalani kehidupan tanpa terus dibayangi rasa takut.
Karena itu, perjalanan masyarakat NTT belum selesai. Mereka masih membutuhkan waktu, dukungan, dan ruang untuk membangun kembali kehidupan yang sempat porak-poranda akibat gempa.
Satu bulan bukanlah waktu yang cukup untuk menghapus dampak sebuah bencana besar. Di balik aktivitas yang mulai berjalan, masih ada keluarga yang tinggal di pengungsian, rumah yang menunggu diperbaiki, anak-anak yang belajar di ruang darurat, dan masyarakat yang masih berusaha mengembalikan kehidupannya.
NTT mungkin sedang bangkit. Namun, satu hal yang perlu diingat, bangkit tidak selalu berarti sudah pulih.
Mereka masih berjuang. Dan perjuangan itu membutuhkan dukungan agar masyarakat terdampak dapat benar-benar kembali memiliki rumah yang aman, penghidupan yang layak, serta harapan untuk menatap hari esok.


