LAZNAS Al-Irsyad Purwokerto

LAZNAS Al Irsyad Purwokerto Upgrade Profesionalitas Amil

Purwokerto— Suasana santai di Kopi Keprok, Sumbang, Purwokerto, berubah menjadi ruang belajar yang penuh energi ketika LAZNAS Al Irsyad Purwokerto menggelar kegiatan upgrading amil (30/04).Tidak sekadar pelatihan biasa, kegiatan ini mengusung tema yang cukup menarik di dunia filantropi: Deal Maker. Tema tersebut menghadirkan perspektif baru tentang bagaimana seorang amil tidak hanya bekerja administratif, tetapi juga mampu membangun relasi dan kepercayaan secara strategis.

Kegiatan ini menghadirkan Arif Rahman, owner Abata Project, sebagai pemateri utama. Sejumlah unit usaha di bawah naungan Mafaza Group seperti Mafaza Weo, Klinik Mafaza, Mafaza Aqiqah, dan Mafaza Umroh turut ambil bagian, menambah warna dalam diskusi yang berlangsung hangat namun berbobot.

Mengubah Peran Amil: Dari Pengelola Menjadi Deal Maker

Dalam pemaparannya, Arif Rahman menekankan bahwa tantangan dunia filantropi saat ini menuntut amil untuk memiliki kemampuan lebih dari sekadar mengelola dana. Mereka harus mampu menjadi “deal maker”, penghubung yang efektif antara muhsinin dan penerima manfaat.

“Seorang deal maker itu bukan sekadar orang yang menawarkan program, tapi orang yang mampu membangun kepercayaan, memahami kebutuhan, dan menciptakan solusi yang saling menguntungkan. Dalam konteks amil, ini berarti bagaimana kita bisa menjembatani niat baik muhsinin dengan kebutuhan nyata mustahik secara tepat dan berdampak,” ujar Arif dalam sesi pemaparan.

Arif juga menekankan pentingnya perubahan cara pandang atau upgrade mindset bagi para amil. Menurutnya, keberhasilan dalam menghimpun dan menyalurkan dana umat tidak hanya bergantung pada teknik komunikasi, tetapi juga pada pola pikir yang benar.

“Kita ini bukan sedang jualan. Kita sedang membantu orang berbuat baik agar tepat sasaran dan tepat waktu. Donatur itu bukan target prospek, tapi mitra dalam berbuat baik. Jadi jangan diposisikan seperti penjual dan pembeli, tapi lebih sebagai teman atau bahkan keluarga,” kata Arif.

Ia menambahkan, timnya tidak mengejar closing sebagai tujuan utama secara instan, melainkan membangunnya melalui proses yang disiplin.

“Closing itu adalah hasil akhir dari kedisiplinan. Bangun sistem yang baik, lalu kelola muzakki sebagai aset yang sangat berharga. Kalau ini dilakukan dengan benar, hasil akan mengikuti,” ujarnya.

Arif tidak hanya menyampaikan materi yang bersifat teoritis, tetapi juga menyertakan studi kasus dan pengalaman langsung di lapangan. Hal ini membuat peserta lebih mudah memahami dan mengaitkan konsep deal maker dengan pekerjaan sehari-hari mereka.

Diskusi Interaktif dan Harapan ke Depan

Kegiatan ini tidak berjalan satu arah. Para peserta terlihat aktif dan antusias sepanjang sesi. Pertanyaan demi pertanyaan terus dilontarkan, mulai dari strategi membangun relasi dengan donatur hingga cara menghadapi penolakan.
Diskusi berkembang menjadi ruang berbagi pengalaman. Para peserta saling bertukar cerita tentang tantangan yang mereka hadapi di lapangan. Suasana santai khas kedai kopi justru membuat interaksi menjadi lebih cair dan terbuka.

Ali Nugroho, perwakilan LAZNAS Al Irsyad Purwokerto sekaligus pembawa acara, menyampaikan harapannya terhadap kegiatan ini. Ia menilai upgrading amil semacam ini penting untuk menjaga kualitas dan profesionalitas lembaga.

“Dengan adanya kegiatan ini, kami berharap kualitas amil semakin meningkat, baik dari sisi kompetensi maupun cara berinteraksi dengan muhsinin. “Pada akhirnya, tujuan besar kami ialah membantu para muhsinin menyalurkan hartanya kepada penerima yang berhak secara tepat dan amanah,” kata Ali.

Ia menambahkan, pelatihan di luar suasana formal dapat memicu ide baru dan meningkatkan semangat belajar peserta.

Kegiatan upgrading ini menjadi bukti bahwa pengelolaan zakat, infak, dan sedekah kini semakin berkembang mengikuti dinamika zaman. Tidak lagi sekadar berbasis administrasi, tetapi juga menuntut kemampuan komunikasi, strategi, dan empati yang tinggi.

Dengan mengusung konsep deal maker, LAZNAS Al Irsyad Purwokerto menunjukkan komitmennya untuk terus berinovasi dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Harapannya, para amil tidak hanya menjadi pengelola dana umat, tetapi juga agen perubahan yang mampu menghadirkan dampak nyata di tengah masyarakat.

Di tengah tantangan kepercayaan publik dan persaingan lembaga filantropi, langkah ini bisa menjadi salah satu kunci untuk tetap relevan bahkan unggul.

Baca juga selengkapnya : Silaturahmi Akbar LAZNAS Al Irsyad Purwokerto Pererat Ukhuwah

Scroll to Top