LAZNAS Al-Irsyad Purwokerto

Berada di Daerah Krisis Air Bersih, Pesantren Yatim Dhuafa Banyumas dapat Bantuan Sumur Bor Sedalam 90 Meter

Banyumas – Krisis air bersih masih membayangi Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Yatim dan Dhuafa Mafaza 2 di Tanggeran, Banyumas. Para santri dan warga sekitar selama ini hanya mengandalkan satu sumur dangkal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi itu mendorong LAZNAS Al Irsyad Purwokerto melakukan pencarian sumber air menggunakan teknologi Active Digital Magnetotelluric (ADMT) atau Audio Magnetotelluric, Ahad, 10 Mei 2026.

Kegiatan berlangsung sejak pukul 11.30 hingga 17.30 WIB. Tim melakukan pemetaan potensi sumber air di area pondok pesantren bersama pengurus pondok, Joko Mulyono. Proses pencarian dipimpin Bayu, operator alat ADMT yang juga dosen Universitas Jenderal Soedirman.

Tim menemukan lima titik potensi sumber air setelah melakukan pengukuran di beberapa lokasi. Dari lima titik tersebut, titik ketiga dinilai paling efektif untuk pengeboran. Kedalaman sumber air diperkirakan berada pada 60 hingga 90 meter.

Perwakilan LAZNAS Al Irsyad Purwokerto, Rizky, mengatakan pencarian sumber air dilakukan karena kebutuhan air bersih di pondok sangat mendesak. Menurut dia, para santri selama ini hidup dalam keterbatasan air layak konsumsi.

“Santri dan warga di sini masih kesulitan mendapatkan air bersih. Mereka hanya memakai satu sumur dangkal untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Rizky di lokasi kegiatan.

Ia menjelaskan air dari sumur tersebut belum layak diminum. Karena itu, warga dan santri harus membeli air untuk kebutuhan konsumsi harian. Kondisi tersebut membuat pengeluaran pondok semakin bertambah.

“Harapan kami, pengeboran nanti bisa menghasilkan sumber air yang cukup dan layak konsumsi. Ini akan sangat membantu kebutuhan santri dan masyarakat sekitar,” ujar Rizky.

Sumur Dangkal Jadi Andalan Warga dan Santri

Saat ini, warga sekitar pondok masih bergantung pada satu sumur dengan kedalaman air sekitar satu meter. Air sumur dipakai untuk mandi, mencuci, dan kebutuhan dasar lainnya. Namun kualitas air dinilai belum memenuhi standar konsumsi.

Kondisi itu juga mempengaruhi aktivitas para santri di pondok pesantren. Pada musim kemarau, debit air sering menurun sehingga kebutuhan harian menjadi terganggu. Para pengurus pondok harus mengatur penggunaan air secara ketat.

Pengurus pondok, Joko Mulyono, menyambut baik langkah pencarian sumber air tersebut. Ia berharap pengeboran dapat segera dilakukan agar para santri memperoleh akses air bersih yang lebih layak.

Menurut dia, kebutuhan air di pondok terus meningkat seiring bertambahnya jumlah santri. Selama ini, pondok belum memiliki sumber air memadai untuk menopang aktivitas harian.

“Kami sangat bersyukur ada perhatian untuk membantu kebutuhan air di pondok ini. Semoga proses pengeboran berjalan lancar,” kata Joko.

Kegiatan pemetaan sumber air itu juga menarik perhatian warga sekitar. Sejumlah warga mengikuti proses pengukuran sejak siang hingga sore hari. Mereka berharap hasil pengeboran nantinya juga bisa dimanfaatkan masyarakat sekitar pondok.

Operator ADMT Sebut Titik Ketiga Paling Potensial

Operator alat ADMT, Bayu, mengatakan proses pengukuran dilakukan di beberapa titik untuk mengetahui potensi debit air di bawah permukaan tanah. Pengukuran dilakukan dengan mempertimbangkan struktur tanah dan potensi cadangan air.

“Hasil pengukuran menunjukkan ada lima titik sumber air. Titik ketiga memiliki potensi paling baik untuk dilakukan pengeboran,” ujar Bayu.

Ia menjelaskan kedalaman air di titik tersebut diperkirakan berada pada 60 hingga 90 meter. Kedalaman itu dinilai cukup ideal untuk mendapatkan debit air yang stabil dan lebih layak digunakan.

Menurut Bayu, penggunaan teknologi Active Digital Magnetotelluric atau Audio Magnetotelluric membantu proses identifikasi sumber air menjadi lebih akurat. Teknologi tersebut dapat memetakan keberadaan air di bawah tanah tanpa harus melakukan pengeboran awal.

“Teknologi ini membantu menentukan titik yang paling efektif sehingga pengeboran tidak dilakukan secara acak,” ujar Bayu. 

Setelah titik potensial ditemukan, tahap selanjutnya adalah proses pengeboran sumur dalam. LAZNAS Al Irsyad Purwokerto berencana melanjutkan program tersebut sebagai bagian dari upaya penyediaan air bersih bagi pesantren dan masyarakat sekitar.

Program itu diharapkan menjadi solusi jangka panjang atas krisis air bersih yang selama ini dihadapi para santri yatim dan dhuafa di Tanggeran, Banyumas.

LAZNAS Al Irsyad Purwokerto juga mengajak masyarakat untuk ikut mendukung program penyediaan air bersih tersebut. Bantuan dari para donatur dinilai akan mempercepat proses pengeboran dan pembangunan fasilitas air bersih bagi santri serta warga sekitar. Dukungan masyarakat diharapkan mampu menghadirkan akses air layak konsumsi bagi lingkungan pondok pesantren.

Scroll to Top