LAZNAS Al-Irsyad Purwokerto

Terjebak Konflik Gaza, Mahasiswa Penerima Beasiswa Cendekia Gagal Berangkat Meski Visa Terbit

Harapan Fatimah dan Salem, dua calon mahasiswa baru asal Gaza, Palestina, untuk memulai kehidupan baru di Indonesia masih tertahan di tengah situasi yang terus memburuk. Keduanya telah resmi diterima di Universitas Amikom Purwokerto sebagai penerima Manfaat Beasiswa Cendekia LAZNAS Al Irsyad Purwokerto. Seluruh proses administrasi, termasuk visa pendidikan, telah selesai diproses dan biayanya pun telah dibayarkan. Namun, impian itu belum dapat terwujud karena mereka belum bisa keluar dari Jalur Gaza (11/7).

Meningkatnya serangan Zionis Israel membuat berbagai layanan publik di Gaza mengalami gangguan. Salah satu dampaknya adalah terhambatnya proses penerbitan paspor yang menjadi syarat utama untuk meninggalkan wilayah tersebut. Akibatnya, keberangkatan kedua calon mahasiswa itu menuju Indonesia harus tertunda meski seluruh persiapan akademik telah rampung.

Kondisi tersebut disampaikan langsung oleh Salem, salah satu calon mahasiswa asal Gaza, melalui komunikasi WhatsApp bersama Ali, tim LAZNAS Al Irsyad Purwokerto. Dalam percakapan itu, Salem menjelaskan bahwa dirinya telah berupaya menghubungi pihak yang berwenang untuk mengurus paspor.

“Saya sudah menghubungi pihak yang akan menerbitkan paspor. Mereka mengatakan ada beberapa kendala sehingga penerbitan paspor saya menjadi terlambat. Seperti yang Anda ketahui, hal ini disebabkan oleh berbagai kesulitan yang kami hadapi di Gaza,” ujar Salem.

Ia juga berharap pihak universitas dapat membantu dengan menerbitkan dokumen resmi yang menunjukkan bahwa dirinya telah diterima sebagai mahasiswa dan akan berangkat menempuh pendidikan di Indonesia. Dokumen tersebut diharapkan dapat mempercepat proses penerbitan paspor.

Pendidikan Menjadi Harapan di Tengah Krisis

Bagi Salem, kesempatan memperoleh beasiswa tidak hanya berarti akses menuju bangku kuliah. Lebih dari itu, pendidikan menjadi simbol harapan di tengah kehidupan yang dipenuhi ketidakpastian akibat konflik berkepanjangan.

Menurutnya, kondisi yang terjadi di Gaza tidak hanya menghambat aktivitas belajar, tetapi juga memberikan tekanan psikologis yang berat bagi para mahasiswa. Mereka harus berjuang mempertahankan semangat belajar di tengah ancaman yang terus membayangi.

“Kami sebagai mahasiswa dari Gaza hidup dalam kondisi yang sangat sulit. Keadaan ini telah berdampak besar terhadap kehidupan pendidikan dan kondisi psikologis kami. Untuk memperoleh pendidikan dan mewujudkan impian kini menjadi penuh tantangan,” kata Salem.

Meski demikian, ia memilih untuk tetap optimistis. Di tengah berbagai keterbatasan, ia percaya bahwa harapan tidak boleh padam. Kesempatan melanjutkan studi di Indonesia menjadi motivasi yang terus menguatkan dirinya untuk bertahan.

“Meskipun menghadapi semua kesulitan tersebut, kami tetap berpegang pada harapan dan terus berusaha membangun masa depan yang lebih baik,” ujarnya.

Salem mengaku kabar diterimanya sebagai penerima Beasiswa Cendekia menjadi salah satu momen paling berarti dalam hidupnya. Baginya, beasiswa itu bukan sekadar bantuan biaya pendidikan, melainkan titik awal untuk mengubah masa depan.

“Diterimanya saya dalam program beasiswa ini bukan sekadar kesempatan untuk melanjutkan studi, tetapi merupakan secercah harapan yang benar-benar mengubah hidup saya serta memberikan semangat untuk terus melangkah dan mewujudkan cita-cita saya,” tuturnya.

Menanti Jalan Keluar dari Gaza

Hingga kini Salem bersama satu calon mahasiswa asal Palestina lainnya masih menunggu kepastian mengenai penerbitan paspor dan kesempatan untuk meninggalkan Gaza. Mereka berharap seluruh proses dapat segera terselesaikan sehingga perjalanan menuju Indonesia bisa terlaksana sesuai rencana.

Di akhir percakapan, Salem menyampaikan doa sekaligus harapannya agar semua urusan dipermudah. Ia percaya setiap kesulitan akan menemukan jalan keluarnya.

“Saya berharap, insya Allah, semoga semua urusan ini berjalan dengan baik dan mendapat hasil yang terbaik,” katanya.

Ia juga mengungkapkan kebahagiaannya apabila suatu saat dapat keluar dari Gaza sementara waktu demi  melanjutkan pendidikan melalui program beasiswa di Indonesia.

“Saya sangat senang jika saya bisa keluar dari sini, Gaza, untuk bisa mendapatkan bantuan beasiswa di Indonesia,” ujarnya.

Kisah Salem menggambarkan bahwa bagi sebagian mahasiswa di wilayah konflik, perjuangan untuk mengenyam pendidikan dimulai jauh sebelum memasuki ruang kuliah. Mereka harus melewati berbagai hambatan yang bahkan tidak pernah dibayangkan oleh mahasiswa di negara lain. Di tengah perang, keterbatasan layanan publik, dan ketidakpastian masa depan, pendidikan tetap menjadi cahaya yang mereka kejar. Kini, harapan itu masih menunggu satu pintu untuk terbuka: kesempatan meninggalkan Gaza demi meraih masa depan melalui ilmu pengetahuan di Indonesia.

Scroll to Top